Wordpress Blog of Rinus Muntu


Gough Whitlam Dan Perjalanan Politiknya Di Australia (1945-1978)
April 2, 2012, 2:37 AM
Filed under: Uncategorized

   

SEKILAS KEHIDUPAN AWAL

Whitlam terlahir dengan nama lengkap Edward Gough Whitlam. Beliau lahir di sebuah kota kecil yang bernama Kew pada tanggal 11 Juli 1916 . Kota ini berjarak 7 km dari Melbourne, Negara Bagian Victoria, Australia. Ayah beliau bernama Harry Frederick Ernest Whitlam atau biasa dipanggil dengan nama Fred Whitlam, yang merupakan seorang pegawai negeri federal yang berdinas sebagai Pengacara Commonwealth Crown. Keterlibatan Fred Whitlam dalam masalah-masalah hak-hak asasi manusia merupakan pengaruh yang kuat terhadap anaknya, Gough. Ibunda beliau bernama Martha Maddocks. Beliau tidak menganut agama apapun setelah beliau meninggalkan agamanya yang dulu yang bernama Anglikan .

Whitlam belajar di Mowbray House School dan Knox Grammar School di kota Sydney. Beliau juga belajar di Telopea Park High School dan Canberra Grammar School, yang berada di kota Canberra, ibukota Australia. Di sana beliau bersahabat dengan seseorang yang bernama Francis James. Setelah itu, Whitlam kemudian melanjutkan masa studinya untuk belajar hukum dan kesenian di Universitas Sydney.

Studi Gough Whitlam sempat terhenti pada saat Perang Dunia II dimana beliau terlibat langsung dan berdinas sebagai penerbang di Skuadron No. 13 RAAF Angkatan Udara Australia. Beliau mencapai pangkat letnan penerbang. Barulah setelah itu, beliau menyelesaikan studinya setelah perang dan diterima di pengadilan New South Wales pada 1947.

Pada saat masa-masa Perang Dunia II, tepatnya pada tanggal 22 April 1942, beliau menikahi seorang wanita yang bernama Margaret Dovey yang kemudian mengganti namanya menjadi Margaret Whitlam. Margaret merupakan seorang anak dari Mahkamah Agung di New South Wales yang bernama Wilfred Robert "Bill" Dovey. Margaret dikenal karena cerdas dan pandai mengejek seperti suaminya. Ia juga merupakan seorang pengarang yang banyak menghasilkan terbitan dan juga Margaret merupakan bekas juara renang. Dari pernikahannya ini, Gough Whitlam mendapatkan 3 orang anak laki-laki dan seorang anak perempuan. Anak mereka yang pertama bernama Nicholas Whitlam, yang kemudian menjadi bankir yang terkemuka dan tokoh kontroversial. Anak mereka yang kedua, Tony Whitlam, pernah dalam jangka waktu yang singkat menjadi anggota parlemen federal dan diangkat sebagai hakim pada tahun 1993 di Pengadilan Federal Australia, dan belakangan pada 1994 hakim di Mahkamah Agung ACT . Anak mereka yang ketiga bernama Stephen Whitlam adalah seorang bekas diplomat. Lalu anak perempuan mereka bernama Catherine Dovey, pernah menjabat di Badan Pengurangan Hukuman New South Wales.

MEMASUKI DUNIA POLITIK AUSTRALIA

Beliau memasuki dunia politik di Australia pada usianya yang ke-29, tepatnya pada tahun 1945. Kala itu, beliau bergabung dengan sebuah partai tertua di Australia yang masih berjalan hingga saat ini yaitu Partai Buruh Australia atau Australian Labor Party (ALP) pada era Ben Chifley . Perjalanan beliau di kancah perpolitikan Partai Buruh cukup berhasil dan beliau dijadikan kandidat yang mewakili Partai Buruh di dalam Dewan Legislatif New South Wales (NSW Legislative Assembly). Namun beliau kalah dalam pemilihan ini. Langkah beliau selanjutnya adalah memasuki House of Representatives, sebuah parlemen tingkat federal di Australia, pada tanggal 29 November 1952 setelah mengalami pemilihan atau election yang diadakan oleh Werriwa .

Beliau tercatat sebagai seseorang yang pandai berpidato, jenaka, tajam, dan memiliki pengetahuan yang tinggi. Hal-hal tersebut yang membuat Gough Whitlam cepat naik daun di dalam kancah perpolitikan Australia dan menjadikannya pula sebagai bintang ALP di dalam House of Representative Australia. Banyak pula yang menganggap beliau sebagai politikus dan pendebat yang terbaik di dalam parlemen tersebut. Beliau juga termasuk salah satu dari sekian banyak kader ALP yang menjadi oposisi bagi pemerintahan Perdana Menteri Menzies pada saat itu.

Setelah Ben Chifley meninggal pada tahun 1951, ALP dipimpin oleh Herbert Vere Evatt (1894-1965) atau biasa dipanggil dengan nama Bert Evatt yang menjabat sebagai pemimpin ALP era 1951-1960. Gough Whitlam sangat mengagumi Bert Evatt dan beliau pula yang menjadi supporter yang paling loyal terhadap kepemimpinan Bert Evatt. Namun Evatt mengundurkan diri sebagai pemimpin ALP pada tahun 1960 dan digantikan oleh Arthur Augustus Calwell (1896-1973) yang memimpin ALP selama 7 tahun.

Pada tahun 1960an, hubungan antara Whitlam dengan Calwell dan anggota-anggota ALP lain memanas. Whitlam menentang beberapa kebijakan yang dibuat oleh ALP; nasionalisasi industri, penolakan bantuan secara mentah-mentah kepada sekolah-sekolah agama, dan dukungan Calwell terhadap White Australian Policy . Pendiriannya yang teguh ini membawanya kepada konflik terhadap sejumlah anggota ALP yang lain. Beliau pun kehilangan wibawanya sebagai pemimpin dan hampir didepak dari ALP pada tahun 1966 karena beliau cukup vokal mendukung beberapa kebijakan pemerintahan Menzies, dimana ALP menjadi oposisi dari pemerintahan Menzies. Namun beliau sempat diangkat menjadi Queen’s Counsel pada tahun 1962.

Pemerintahan Menzies berakhir pada bulan Januari 1966 setelah Menzies menyatakan pensiun. Menzies digantikan oleh para penggantinya pula yang berasal dari Partai Liberal. Tiga orang penggantinya juga menjadi Perdana Menteri Australia. Mereka adalah Harold Edward Holt (1908-1967) yang menjabat menjadi Perdana Menteri Australia pada tahun 1966-1967. Holt kemudian menghilang, dan diduga telah meninggal, pada bulan Desember 1967 dan digantikan oleh John Grey Gorton (1911-2002) yang menjabat menjadi Perdana Menteri Australia pada tahun 1968 – 1971. Lalu Gorton digantikan pula oleh William McMahon (1908-1988) yang menjabat menjadi Perdana Menteri Australia pada tahun 1971-1972.

Di dalam kubu ALP sendiri, kedudukan Calwell akhirnya digantikan oleh Gough Whitlam setelah menyingkirkan saingannya di kubu lain di ALP yaitu James Ford Cairns (1914-2003). Gough Whitlam sukses menjadi pemimpin ALP pada tahun 1967-1977 yang merupakan partai yang masih eksis menjadi oposisi pada masa pemerintahan oleh perdana menteri yang berasal dari Partai Liberal.

Pada era Whitlam sebagai pemimpin dari oposisi pemerintahan, beliau dengan cepat membuat prestasi bersama ALP. Beberapa prestasi yang telah dibuatnya adalah menjadi pelopor rasionalisasi ekonomi, penghapusan White Australian Policy, tidak lagi menjadi oposisi terhadap bantuan-bantuan pemerintah, dan merubah suasana suram yang telah terjadi pada era 1950an yang dibawa oleh para kaum puritan yang berada di kubu ALP.

Setelah menghilangnya Holt pada Desember 1967, Partai Liberal yang saat itu memegang Parlemen Australia, merubah sikapnya dengan lebih banyak mengalah terhadap perbedaan pendapat yang terjadi di internal partai. Dan pengganti Holt, Gorton, menjadikan Whitlam sebagai tangan kanan karena Whitlam merupakan satu-satunya politikus yang menyadari dan sangat berani menjadikan televisi sebagai alat kekuatan politik.

Dalam Pemilihan Umum 1969, Whitlam memenangkan 18 kursi. Sebenarnya beliau memenangkan suara mayoritas dari dua kubu partai besar Australia; ALP dan Liberal. Namun campur tangan dari Democratic Labor Party yang telah lama melawan atau menjadi oposisi ALP menjadikannya kalah. Dan pada tahun 1971, Liberal mendepak Gorton dan menggantikannya dengan McMahon. Kejadian ini dikarenakan Gorton menjadikan Whitlam sebagai tangan kanannya. McMahon merupakan politikus Australia yang lebih berpengalaman dibandingkan dengan Gorton, dan McMahon juga merupakan politikus yang tidak sudi untuk menjadikan Gough Whitlam sebagai kepercayaannya.

Pada tanggal 5 Desember 1972, akhirnya Gough Whitlam menjabat sebagai Perdana Menteri Australia ke-21 menggantikan William McMahon. Whitlam diusung oleh ALP sebagai calon Perdana Menteri dan akhirnya mengalami kesuksesan setelah Pemilihan Umum (Federal Election) pada tahun 1972. Tema kampanye yang diusung oleh ALP adalah “It’s Time”. ALP menjanjikan kepada publik sebuah paket perbaikan, terutama mengenai keterlibatan Australia terhadap keterlibatannya di dalam Perang Vietnam yang dianggap tidak perlu oleh publik Australia. Dan juga ALP menjanjikan pemberhentian wajib militer (wamil), mendirikan hubungan diplomasi dengan RRC (Republik Rakyat Cina), Kemerdekaan bagi Papua Nugini, Bebas Biaya Kuliah atau Biaya Kuliah Gratis, Rencana Kesehatan Nasional, dan sebuah program desentralisasi kota dengan membangun Regional Growth Centres.

SEBAGAI PERDANA MENTERI AUSTRALIA

Gough Whitlam akhirnya menjabat sebagai Perdana Menteri Australia ke-21. Beliau menjabat sebagai Perdana Menteri Australia mulai dari tanggal 5 Desember 1972 – 11 November 1975. Naiknya Whitlam sebagai Perdana Menteri Australia merupakan angin segar bagi ALP dimana partai ini telah 23 tahun berada di luar pemerintahan sebagai oposisi. Setelah memerintah, Whitlam ingin menjalankan politik luar negeri yang mandiri dan tidak mau menggantungkan diri kepada kekuatan asing. Adanya perubahan di kawasan sekitarnya mendorong Whitlam mendefinisikan kembali politik luar negeri Australia yang berlaku selama itu.

Pernyataan tersebut menunjukkan keinginan Whitlam untuk mendefinisikan kembali politik luar negeri Australia dalam arti ingin menjalankan politik luar negeri bebas tidak hanya mengikuti politik luar negeri yang dijalankan sahabat besarnya, Amerika Serikat tanpa koreksi. Perdana Menteri Whitlam ingin agar Australia dapat menjalankan politik luar negeri sebagaimana layaknya Australia sebagai sebuah negara yang merdeka.

Meskipun mendapat banyak dukungan dari publik Australia, faktor “vakum 23 tahun” ALP dari posisi pemerintahan menjadikan batu sandungan ALP karena kurangnya pengalaman di bidang pemerintahan meskipun selama itu mereka terus memantau pemerintahan-pemerintahan sebelumnya dengan menjadi oposisi. Namun, Whitlam menaikkan secara besar-besaran tentang Program Perbaikan oleh Legislatif (Legislative Reform Program).

Dalam waktu kurang dari 3 tahun, pemerintahan Whitlam mendirikan hubungan diplomasi formal dengan RRC, bertanggung jawab terhadap kebutuhan pendidikan tersier dan menghapuskan biaya pendidikan, menghapus sisa-sisa White Australian Policy, memperkenalkan ‘supporting benefit’ bagi orang tua tunggal (single-parent), memperkenalkan Multiculturalism Policy untuk para imigran baru, menaikkan persamaan derajat bagi wanita, menghapus wajib militer, membuat Komite Nasional Penasihat Aborigin (National Aboriginal Consultative Committee) menghapuskan hukuman mati bagi narapidana federal, meningkatkan keadilan dan kesejahteraan warga pribumi Australia (Indigenous Australia), meningkatkan dana untuk bidang seni, dan lain-lain.

Hal-hal yang telah dibuat selama masa pemerintahan Whitlam tentu saja berlawanan arah dengan visi-misi dari Liberal dimana Liberal lebih condong ke arah pemerintahan persemakmuran dan ALP yang selalu memperjuangkan kemerdekaan penuh bagi Australia. Perbedaan Liberal dan ALP yang lain adalah dimana Liberal selalu meninggikan derajat kaum kulit putih dan ALP selalu memposisikan seluruh derajat warga di Australia adalah setara.

Namun, Whitlam juga mengalami hambatan dalam masa pemerintahannya. Pada tahun 1975, para Senat dengan tegas menolak 6 Daftar Utama dan dua kali menolaknya. 6 Daftar Utama tersebut adalah:

1. Mengadakan sistem Asuransi Kesehatan Bersama (Universal Health Insurance) yang dikenal dengan nama Medibank atau Medicare.

2. Memberikan kepada warga dari Northern Territory dan Australian Capital Territory untuk masuk ke dalam Parlemen Australia (House of Representatives).

3. Mengatur standarisasi pemilih di dalam House of Representatives.

4. Mengadakan pengawasan dari pemerintah untuk mengawasi eksploitasi minyak dan barang tambang.

Penolakan yang dilakukan oleh para Senat ini berdampak buruk pada masa depan Whitlam sebagai Perdana Menteri Australia. Pada tahun 1975, krisis politik atau krisis konstitusional terjadi di Australia pada masa-masa akhir pemerintahan beliau sebagai Perdana Menteri Australia, yaitu pada bulan Oktober-November 1975. Banyak pula pihak yang menganggap bahwa hal ini merupakan konspirasi yang dilakukan oleh Ratu Inggris, Gubernur Jenderal, dan juga Liberal yang tidak menginginkan Australia menjadi negara yang solider terhadap kebijakan-kebijakan yang telah dibuat oleh Gough Whitlam.

Reputasinya juga semakin memburuk di saat 3 bencana alam besar; badai topan di Darwin, banjir di Brisbane, dan runtuhnya Jembatan Hobart; sedang melanda Australia. Saat 3 bencana itu terjadi, beliau sedang berada di luar negeri. Whitlam dikenal juga dengan sebutan “The Tourist Prime Minister”.

Disaat John Malcolm Fraser (1930-sekarang) dari golongan oposisi menolak untuk melancarkan daftar persediaan di dalam Senat sampai pemilihan di House of Representatives diadakan, Whitlam menolak pula hal ini dan akhirnya terjadi sebuah kebuntuan. Gubernur Jenderal saat itu, Sir John Kerr , sangat mengintervensi atau turut campur dalam permasalahan ini. Kerr mendengar bahwa Whitlam tidak bermaksud untuk menjalankan pemilihan umum / election lagi untuk House of Representatives. Maka dari itu, Kerr mengirimkan surat pemberhentian tugas kepada Whitlam pada tanggal 11 November 1975 dan Fraser diminta untuk mengambil alih posisi sebagai Perdana Menteri. Fraser sendiri menjabat sebagai Perdana Menteri Australia mulai 11 November 1975 hingga 11 Maret 1983.

Publik Australia kaget dengan keputusan Gubernur Jenderal. Namun publik tidak menunjukkan ‘amarah’nya hingga hari pemungutan suara berlangsung. Kasus ini merupakan tamparan berat bagi Australia karena turut campurnya Inggris lewat Gubernur Jenderalnya terhadap masalah dalam negeri yang sedang dialami oleh Australia. Hal ini membuat Australia menjadi makin tidak berwibawa di mata dunia karena Australia bagaikan ‘anak kecil’ yang belum dewasa dan masih dirawat oleh ‘ibu’nya.

SETELAH MASA JABATAN SEBAGAI PERDANA MENTERI

Setelah masa jabatannya berakhir sebagai Perdana Menteri Australia, beliau tetap melanjutkan tugasnya sebagai pemimpin ALP. Namun setelah mengalami kekalahan pada pemilihan umum pada tahun 1977, beliau mengundurkan diri dari posisi pemimpin ALP. Kemudian beliau juga mengundurkan diri dari Parlemen Australia pada bulan Juli 1978 yang merupakan tanda berakhirnya karir beliau di dalam kancah perpolitikan Australia. Kemudian pada tahun 1983, beliau menjadi Duta Besar UNESCO dan sejak saat itu pula beliau menjadi pengamat seni.

Meskipun begitu, beliau dan istrinya, Margaret, tetap menjadi anggota ALP untuk seterusnya hingga saat ini. Keanggotaan mereka di ALP dimantapkan pula pada April 2007, yaitu Gough dan Margaret Whitlam diangkat sebagai anggota seumur hidup oleh ALP. Hal ini merupakan pertama kalinya seseorang menjadi anggota seumur hidup pada tingkat nasional dari ALP.

—————————————————————————————————————————-

Sumber:

http://en.wikipedia.org/wiki/Gough_Whitlam

http://en.wikipedia.org/wiki/Kew,_Victoria

http://en.wikipedia.org/wiki/White_Australia_policy

http://virtaus4.tripod.com/volume6/prime_ministers/gough_whitlam.htm

http://whitlamdismissal.com/whitlam/

http://www.alp.org.au/

http://www.liberal.org.au/

http://www.petra.ac.id/asc/government/prime_minister/gough.htm



Jakarta Tiada Tara
September 6, 2009, 3:51 AM
Filed under: Puisi

Adalah motor yang kotor…

Adalah mobil yang labil…

Adalah bus yang berhembus…

Adalah kereta api yang menutupi…

Tidak adalah, sesuatu yang menggenggam nafas baikku…

Hantaran…

Menghalau…

Galau…

Gumparan…



Halus Makhluk Halus
September 6, 2009, 3:50 AM
Filed under: Puisi

Selembut pakaian, sehangat rembulan…

Baiknya tak terlihat, dan tak mengganggu…

Selembut bulu babi, sehangat ompol bayi…

Jahatnya yang terlihat, sangat mengganggu…



Diri
September 6, 2009, 3:49 AM
Filed under: Puisi

Diri…

Berdiri…

Lupa diri…

Tidak tahu diri…

Semua adalah dirimu…

Duhai manusia berkursi…



Permata Di Pulau Burung
September 6, 2009, 3:46 AM
Filed under: Puisi

Teringat diriku, pada dirimu…

Wahai marginal Nusantara…

Coklat kulitmu, merah hatimu…

Biarlah kalian, suatu saat,

Menjadi penguasa di tanah kalian sendiri…



Pemain Sepakbola Keturunan Indonesia
June 30, 2009, 1:36 AM
Filed under: Essay

Sepakbola merupakan olahraga Internasional yang diminati di seluruh bagian di planet ini. Sepakbola juga dapat membuat sebuah negara menjadi dipandang di mata Internasional. Indonesia juga merupakan salah satu negara yang memiliki minat yang tinggi terhadap dunia sepakbola baik dalam maupun luar negeri. Namun sejak kemerdekaannya, Indonesia tidak pernah lagi mengikuti ajang sepakbola termegah di dunia seperti Piala Dunia. Mengapa hal itu terjadi? Ada beberapa faktor seperti masih dipertahankannya Nurdin Halid sebagai Ketua Umum PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia) ketika ia dipenjara menjadi sebuah tanda tanya besar sehingga membuat FIFA (Federation Internationale de Football Association) sebagai dewan tertinggi dalam dunia sepakbola pun geram.

Kurang adanya perhatian pemerintah terhadap dunia sepakbola dalam negeri pun juga menjadi salah satu faktor sepakbola Indonesia yang terlihat seperti ‘jalan di tempat’, atau bahkan ‘jalan mundur’. Kualitas pemain lokal pun tidak sebanding dengan pemain-pemain taraf Asia lainnya seperti Jepang, Korea Selatan, Irak, Australia (terhitung menjadi anggota Asian Football Confederation [AFC] sejak tahun 2006), Cina, dan Saudi Arabia. Rencana Nurdin Halid pada tahun 2006 untuk menasionalisasikan pemain-pemain keturunan Indonesia yang berada di luar negeri pun belum ada realisasinya hingga saat ini.

Apabila ingin lebih diteliti lagi, banyak sekali pemain-pemain sepakbola keturunan Indonesia yang berada di luar negeri yang dapat menjadi penolong bagi kemajuan dunia sepakbola Indonesia dan menaikkan martabat Indonesia di mata Internasional. Dari banyaknya pemain sepakbola keturunan Indonesia yang bergentayangan di Eropa, terutama di Belanda, berikut adalah pemain-pemain Indonesia yang masih memiliki kesempatan bermain bagi Tim Nasional Sepakbola Indonesia / PSSI:
1. Irfan Bachdim – Gelandang – FC Utrecht
2. Donovan Partosubroto – Kiper – Ajax Amsterdam
3. Radja Nainggolan – Striker – Piacenza
4. Marvin Wagimin – Belakang – VVV Venlo
5. Yoram Pesulima – Belakang – Vitesse
6. Raphael Tuankotta – Belakang – BV Veendam
7. Estefan Pattinasarany – Belakang – AZ Alkmaar, dan masih banyak yang lainnya.

Adapun Jajang Mulyana kini bermain di dalam klub sepakbola Brazil yang cukup terkenal, Boavista.

Dari seluruh pemain tersebut, ternyata adapula pemain-pemain kelas dunia yang juga ternyata berdarah Indonesia seperti Denny Landzaat, Giovanny van Bronkhorst, Robin Van Persie, Jeffrey Leiwakabessy, Delano Hill, John Heitinga, Sergio Van Dijk, Bobby Petta, dan Michael Mols.

Hal ini sangat disayangkan mengingat kondisi sepakbola di Tanah Air yang memprihatinkan. Bukannya ingin merendahkan kualitas pemain lokal yang memang bermain bagi klub lokal, namun kita juga harus dapat mengandalkan segala sesuatu yang masih bisa kita raih selama kesempatan itu masih terbuka lebar bagi kita demi kemajuan kita sendiri. Tidak ada salahnya mempatenkan mereka-mereka yang masih berada di luar negeri untuk memperkuat timnas kita sehingga kita bisa mengikuti kompetisi akbar Piala Dunia, setidaknya menjadi juara Piala Asia terlebih dahulu.

Sumber:

http://www.indowebster.web.id/archive/index.php/t-21138.html



Bon Jovi – All About Lovin’ You
June 3, 2009, 5:39 PM
Filed under: Kord dan Lirik Lagu Favorit

G   D/F#   F   C
 
G                          D/F#
Looking at the pages of my life
      F
Faded memories of me and you
C
Mistakes you know I’ve made a few
G                                     D/F#
I took some shots and fell from time to time
     F                      
Baby, you were there to pull me through
      
       
      C                               Em            
We’ve been around the block a time or two
    C                   D      
I’m gonna lay it on the line
Bm                         Em
Ask me how we’ve come this far
    C                      D
The answer’s written in my eyes

Reff
            G                         Bm
Every time I look at you, baby, I see something new
     C                               Cm    
That takes me higher than before and makes me want you more
              G                               Bm       Em
I don’t wanna sleep tonight, dreamin’s just a waste of time
       F                                  D
When I look at what my life’s been comin’ to
C
I’m all about lovin’ you

     G                                            D/F#      F      
I’ve lived, I’ve loved, I’ve lost, I’ve paid some dues, baby           
We’ve been to hell and back again

C                                     Em
Through it all you’re always my best friend
    C                      D
For all the words I didn’t say 
    Bm                      Em
and all the things I didn’t do
   C                     D
Tonight I’m gonna find a way

(back to reff)

(middle)
Am      C/B             C     
You can take this world away
                      C/B
You’re everything I am
Am           C/B            C    D
Just read the lines upon my face
    D
I’m all about lovin’ you

G  D/F#  F  C 

(back to reff)