Wordpress Blog of Rinus Muntu


“Koloni” Makassar Di Benua Australia
June 3, 2009, 12:32 AM
Filed under: Essay

Sekitar 181 tahun lalu ada seorang pelaut yang bernama Matthew Flinders berlabuh di Teluk Carpentaria, Australia Utara. Flinders mengitari Semenanjung Wilberforce, ujung terutara Tanah Arnhem dan tiba-tiba ia melihat enam perahu asing muncul di cakrawala dan ternyata perahu-perahu asing tersebut adalah perahu-perahu Makassar. Itulah pertama kalinya orang Barat mencatat kehadiran perahu Makassar di wilayah perairan Australia. Seperempat abad kemudian antara tahun 1828 dan 1829, 34 perahu lagi tampak berkeliaran di Teluk Raffles. Seluruh perahu tersebut mengaku berpangkalan di pelabuhan Makassar. Ke-40 kapal tersebut baru sebagian kecil dari seluruh armada Sulawesi Selatan yang sepanjang abad ke-19 berlabuh di Australia. Tujuan para pelaut tersebut adalah mencari teripang.

Mencari teripang bukanlah sekedar upaya untuk mengisi kebutuhan pokok untuk diri sendiri. Teripang-teripang yang diambil tersebut harus melalui proses perebusan, pengeringan, dan seringkali pewarnaan. Pada saat itu, teripang merupakan barang dagangan mahal dan laris di Asia. Di tangan para koki asal Cina, ia berubah menjadi masakan yang cukup menggugah selera. Menurut C.C. Macknight dimana di dalam bukunya “The Voyage To Marege” (Melbourne University Press, 1976), teripang memang jarang dikonsumsi oleh bangsa lain. Teripang termasuk jenis holothuria scabra yang senang bermukim di laut dangkal atau perairan yang kecil ombaknya. Namun mendapatkan teripang dengan ukuran besar tertentu dan mutu yang baik tidaklah mudah. Hal tersebut yang membawa para pelaut Makassar menyeberang hingga Australia dan mungkin melalui orang Australia pula nama ‘teripang’ terserap ke dalam bahasa Inggris, menjadi ‘trepang’ dengan mengalahkan istilah kuno Inggrisnya sendiri yaitu ‘swallo’.

Menurut Flinders, yang dibutuhkan oleh para pelaut Makassar di Australia pada tahun 1803 adalah jenis-jenis teripang koro dan batu. Jenis teripang ini baru 20 tahun kemudian ditemui di Kepulauan Aru, Maluku. Teripang biasanya ditemukan dalam posisi terguling malas. Saat teripang-teripang tersebut dikumpulkan, hewan santapan itu dicuci dan isi perutnya dikeluarkan. Dagingnya yang berotot tebal direbus atau disiram air panas lalu dipendam beberapa lama di bawah pasir. Seusai pemendaman lalu dikeringkan melalui proses pengasapan. Jika sudah kering secara menyeluruh akan disimpan dengan baik dan makanan ini bisa awet hingga jangka waktu yang lama.

Selain untuk masakan, orang-orang Cina memanfaatkan teripang ini juga sebagai obat. Mereka memakainya untuk campuran sop, sayuran, atau sebagai bahan gorengan. Sebagai obat, manfaatnya konon menyamai ginseng hingga orang Cina sendiri menyebutnya hai-sen, ginseng laut. Namun pemakaiannya sebagai lauk di Cina sebenarnya belum terlalu lama dan baru sekitar abad ke-16, hal tersebut terkemuka di dalam buku “Shih-Wupen-Ts’ao”. Pada saat abad ke-17, muncul berbagai referensi tentang teripang di Cina Utara dan Jepang. Dan pada tahun 1715, teripang masuk dalam ‘Wakan Sansai Tsue’, sebuah ensiklopedi Jepang.

Ketika pemerintahan kolonial Belanda mulai ‘menanamkan kukunya’ di Nusantara pada awal abad ke-17, mereka segera menerapkan monopoli di bidang perdagangan. Misalnya dengan mengadakan pengawasan ketat terhadap perdagangan cengkeh di Maluku dan memutuskan rantai perdagangan antara Maluku dan kawasan Nusantara bagian barat. Dalam keadaan tersebut, banyak pedagang-pedagang pesaing Belanda yaitu Inggris, Denmark, Portugis, Malaya, India, dan lain-lain yang dianggap mengganggu lalu lintas perdagangan Belanda karena para pesaing tersebut melihat Makassar sebagai pelabuhan dagang yang cocok. Dengan politik ‘adu domba’ yang terkenal di antara berbagai kerajaan kecil, akhirnya Belanda berhasil mematahkan peranan Makassar hanya di bidang cengkeh, bukan peranannya di bidang komoditi lain berkat letak Makassar yang berada di pusat lalu lintas perdagangan maritim. Dalam posisi seperti ini, Makassar menjadi pusat budidaya teripang dan warga di Australia bagian utara memandang hal ini sebagai perkembangan yang wajar dikarenakan faktor-faktor tersebut.

Pada pertengahan tahun 1966, Macknight mengunjungi kawasan Milingimbi dan menggali situs yang besar di Teluk Anuru. Di tempat tersebut Macknight menemukan lebih banyak sumber sejarah dan sastra. Dengan bahan-bahan ini Macknight maju mempertahankan gelar doktornya pada Universitas Nasional Australia, 1969.

Para pelaut Makassar memberi nama sendiri untuk kawasan utara Australia ini yaitu ‘Marege’. Dalam kamus Makassar, penyebutan istilah ini dipakai untuk menyebut orang Aborigin dan kawasan yang dihuni mereka. Dan ada pula nama sendiri untuk pantai Kimberley yaitu ‘Kayu Jawa’. Jalan menuju Marege dan Kayu Jawa menempuh rute yang sama. Berangkat dari Makassar, mereka mengambil sisi barat daya Sulawesi, kemudian turun melintasi Pulau Selayar dan Pulau Tanah Jampea, lalu ke tenggara menuju Timor. Rute yang biasa ditempuh menuju Kawasan Utara ini ialah dengan mengitari ujung timur laut Pulau Timor. Di sini armada pengumpul teripang sering mengisi air minum atau mengumpulkan bambu dan rotan.

Keterangan pertama tentang pembudidayaan teripang orang Makassar dinyatakan oleh surat residen Belanda di Timor pada tahun 1751. Surat itu mengungkapkan bahwa ada keberangkatan sejumlah pedagang dari Timor yang menuju suatu tempat di selatan. Di sana mereka bertemu dengan orang-orang yang mereka duga adalah orang Aborigin. Ketika keterangan ini sampai ketangan direktur VOC di Amsterdam, ia meminta perincian lebih lanjut. Jawaban tersebut diberikan Gubernur Jenderal Hindia Belanda lewat surat tertanggal 15 0ktober 1757 yang berbunyi: “Daerah selatan yang ada di tenggara Timor kerap kali dikunjungi orang, baik pendatang dari Makassar maupun dari Timor sendiri. Sepengetahuan kami, daerah itu cuma menghasilkan teripang, yaitu ikan yang dikeringkan, sejenis ubur-ubur, dan lilin. Laporan VOC ke sana, pada 1705, sekali lagi kami sampaikan kepada Tuan, dan Makassar serta Timor akan kami minta memberikan informasi lebih jauh”. Dalam kaitan dengan surat di atas, residen Timor yang baru memberikan informasi agak banyak, sedangkan residen Makassar tidak terdengar menambahkan keterangannya.

Pada tahun 1760, seorang peneliti bernama Alexander Dalrymple menyelidiki kemungkinan Inggris untuk meluaskan perdagangan ke kawasan Laut Sulu, Sulawesi Utara. Di sana ia melihat orang-orang Bugis sebagai penyalur barang-barang Inggris. Keterangan lain tentang Sulawesi dan penduduknya datang dari Nakhoda Thomas Forrest. Dan ada cerita dari mulut ke mulut di antara orang Makassar sendiri, seperti yang sampai dua kali di dengar oleh Macknight dari penduduk. Konon, setelah armada Makassar dikalahkan Belanda pada tahun 1667, sejumlah perahu berupaya menyelamatkan diri ke selatan. Tibalah mereka di Teluk Carpentaria, Australia, kawasan yang kemudian disebut Marege.

Diceritakan pula di dalam kisah tersebut tentang nama sejumlah juragan perahu yang mereka pakai sebagai nama daerah tempat mereka mendarat. Misalnya Teluk Mangngellai (Teluk Grays) dan Kampung Bapa Paso’ (Father Nail, di selatan Pulau Woodah). Ada pula nama Teluk Mangko’ (Teluk North West), Pulau-pulau Daeng Lompo dan Daeng Besar (di Teluk Palumbu), Kara Karaenga (artinya, tempat para pemimpin bertemu), di Pulau Wobalinna, dan Port Brodthaw. Pada masa-masa belakangan, mereka pulang ke Makassar sekaligus membawa teripang dan konon teripang tersebut adalah teripang pertama dari Marege.

Teripang yang dibudidayakan oleh orang-orang Makassar menjadi teripang yang paling tinggi harganya dikarenakan mutunya yang bagus. Flinders sendiri menilai, teripang koro dan batu memiliki mutu teratas, seperti juga diakui nakhoda-nakhoda kapal asing lainnya. Teripang-teripang Aru dan Tanimbar sedikit di bawahnya.

Perlawatan ke Marege jelas suatu usaha yang sangat keras, penuh tantangan dan resiko untuk kehilangan nyawa dimana tidak menciptakan kekayaan yang berarti. Awak perahu Makassar yang dibawa untuk berlayar ke Australia Utara terdiri dari beragam suku bangsa. Yang terbanyak adalah orang-orang Makassar dan Bugis. Namun tercatat seorang asal Irian dan seorang penduduk Seram. Ada juga sebuah perahu yang berlabuh di Teluk Raffles pada 1829 memiliki nakhoda asal Jawa yang bernama Budiman. Setiap awak kapal mempunyai semacam kode etik pelayaran yang harus memperhatikan tiga kepentingan: pemilik perahu, pemilik modal yang mencukongi perlawatan, dan sang juragan yang bertanggung jawab terhadap pelayaran.

Sebelum perjalanan dimulai, pemilik perahu mencari pemilik modal atau ‘cukong’ dan seorang nakhoda. Namun biasanya pemilik perahu sekaligus menjadi cukongnya, bahkan seringkali menjadi nakhodanya pula. Dan ada pula pemilik kapal yang menjadi nakhoda di kapal orang lain. Sebagai contoh adalah perahu Mannarima yang dimiliki dan dimodali sekaligus oleh Daeng Manye, sedangkan nakhodanya adalah Pua Anye. Padahal Pua Anye sendiri memiliki perahu Kadaron yang dicukongi Daeng manye dengan nakhoda Pato. Kendati kedua perahu ini berangkat dari Makassar pada hari yang berbeda, mereka tiba di Teluk Raffles pada waktu yang sama. Tentang nakhoda, sangat masuk akal apabila sebagian besar terdiri dari orang Makassar dan Bugis. Namun pemilik kapal atau pemilik modal ternyata berasal dari berbagai bangsa yaitu Cina, Melayu, bahkan Belanda. Dengan demikian, dapat ditarik garis antara golongan yang melakukan budi daya teripang dan pengusaha pelayaran.

Seorang kapten biasanya disebut ‘punggawa’ atau ‘nakhoda’ seperti biasa digunakan dalam istilah orang Melayu, sementara para awak disebut ‘sawi’. Ada pula istilah juragang (juragan), yang fungsinya sama dengan kapten. Namun istilah juragan seringkali diasosiasikan dengan nakhoda sebuah perahu dagang, sementara nakhoda dikaitkan dengan kapten perahu pencari teripang. Lalu ada pula seorang juru mudi dan juru batu yang bertugas mengawasi jangkar dan tali-temali. Adapula yang disebut ‘pancawala’ yaitu petugas di tiang agung, sebagai pengawas lalu lintas laut. Menurut Macknight, semua istilah Makassar ini dikenal oleh orang Aborigin di Australia.

Kemampuan navigasi pelaut Makassar banyak ditentukan oleh pengetahuan dan keahlian pribadi si nakhoda dibandingkan dengan “ilmu” yang dapat dipelajari. Hal ini tentunya hanya dapat diperoleh melalui pengalaman bertahun-tahun. Bakat dan naluri kelautan orang Bugis dan Makassar agaknya turut berperan. Matahari, arah angin, dan arus sudah cukup menjadi petunjuk navigasi. Dan tentunya sebelum berlayar, mereka sudah diberi pengetahuan oleh para pendahulunya mengenai dunia kelautan. Juragan Daeng Sarro misalnya, kepada Macknight mengaku masih mengingat dengan jelas hal-hal paling kecil yang memungkinkannya melayarkan perahunya sampai ke Australia.

Pergaulan antara para pendatang Makassar dengan orang Aborigin dapat dibilang akrab mekipun pada mulanya sempat terjadi ketegangan hingga timbul perkelahian. Selain menjadi rekan dagang, orang Aborigin seringkali membantu ‘tamu’nya dari utara ini di rumah-rumah asap. Bekas-bekas tungku pengasapan dan abunya menjadi saksi hubungan mereka.

Adapula bukti-bukti mengenai terjadinya hubungan seksual antara orang Makassar dan wanita Aborigin. Hal ini disebabkan karena di dalam adat Makassar tidak memperbolehkan wanita untuk ikut berlayar. Sebagaimana pelaut umumnya, kebutuhan seksual mereka disalurkan di daerah tujuan. Using Daeng Rangka, seorang Makassar, dikabarkan memiliki 10 anak dari tiga wanita Aborigin di Tanah Arnhem bagian timur. Salah seorang anak perempuannya yang bernama Kunano pernah mengunjungi kampung ayahnya di Makassar pada saat budidaya teripang Makassar di Australia hampir berakhir. Persentuhan kebudayaan pendatang dengan orang Aborigin tidak besar. Yang paling menonjol adalah penggunaan bahasa Makassar sebagai alat komunikasi antara kedua belah pihak yang juga menimbulkan bahasa yang sama di dalam tata bahasa orang Aborigin. Sebagai contoh adalah dariba, taripang, djama (dari jama, bekerja), wukiri (dari ukiri,menulis), botoru (dari botoro’, berjudi), dan billina (dari bilang, menghitung).

Unsur budaya Makassar lainnya yang masih tertinggal di wilayah pantai Australia Utara adalah bentuk perahu kecil lepa-lepa dan juga beberapa peralatan untuk mencari biji besi dan cangklong madat dimana orang Aborigin mengisinya dengan tembakau. Orang Makassar juga cukup meninggalkan kesan di bidang-bidang lain. Hal ini dapat dibuktikan bahwa orang Aborigin menuangkannya dalam bentuk lukisan-lukisan dinding di gua-gua dan kulit pohon asam. Lukisan rumah, perahu, badik, dan orang Makassar terdapat di sekitar Tanah Arnhem.

 

Sumber:

http://majalah.tempointeraktif.com/id/cetak/2004/09/20/SEL/mbm.20040920.SEL86990.id.html

http://ahmadfathulbari.multiply.com/journal/item/3


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: