Wordpress Blog of Rinus Muntu


Pemain Sepakbola Keturunan Indonesia
June 30, 2009, 1:36 AM
Filed under: Essay

Sepakbola merupakan olahraga Internasional yang diminati di seluruh bagian di planet ini. Sepakbola juga dapat membuat sebuah negara menjadi dipandang di mata Internasional. Indonesia juga merupakan salah satu negara yang memiliki minat yang tinggi terhadap dunia sepakbola baik dalam maupun luar negeri. Namun sejak kemerdekaannya, Indonesia tidak pernah lagi mengikuti ajang sepakbola termegah di dunia seperti Piala Dunia. Mengapa hal itu terjadi? Ada beberapa faktor seperti masih dipertahankannya Nurdin Halid sebagai Ketua Umum PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia) ketika ia dipenjara menjadi sebuah tanda tanya besar sehingga membuat FIFA (Federation Internationale de Football Association) sebagai dewan tertinggi dalam dunia sepakbola pun geram.

Kurang adanya perhatian pemerintah terhadap dunia sepakbola dalam negeri pun juga menjadi salah satu faktor sepakbola Indonesia yang terlihat seperti ‘jalan di tempat’, atau bahkan ‘jalan mundur’. Kualitas pemain lokal pun tidak sebanding dengan pemain-pemain taraf Asia lainnya seperti Jepang, Korea Selatan, Irak, Australia (terhitung menjadi anggota Asian Football Confederation [AFC] sejak tahun 2006), Cina, dan Saudi Arabia. Rencana Nurdin Halid pada tahun 2006 untuk menasionalisasikan pemain-pemain keturunan Indonesia yang berada di luar negeri pun belum ada realisasinya hingga saat ini.

Apabila ingin lebih diteliti lagi, banyak sekali pemain-pemain sepakbola keturunan Indonesia yang berada di luar negeri yang dapat menjadi penolong bagi kemajuan dunia sepakbola Indonesia dan menaikkan martabat Indonesia di mata Internasional. Dari banyaknya pemain sepakbola keturunan Indonesia yang bergentayangan di Eropa, terutama di Belanda, berikut adalah pemain-pemain Indonesia yang masih memiliki kesempatan bermain bagi Tim Nasional Sepakbola Indonesia / PSSI:
1. Irfan Bachdim – Gelandang – FC Utrecht
2. Donovan Partosubroto – Kiper – Ajax Amsterdam
3. Radja Nainggolan – Striker – Piacenza
4. Marvin Wagimin – Belakang – VVV Venlo
5. Yoram Pesulima – Belakang – Vitesse
6. Raphael Tuankotta – Belakang – BV Veendam
7. Estefan Pattinasarany – Belakang – AZ Alkmaar, dan masih banyak yang lainnya.

Adapun Jajang Mulyana kini bermain di dalam klub sepakbola Brazil yang cukup terkenal, Boavista.

Dari seluruh pemain tersebut, ternyata adapula pemain-pemain kelas dunia yang juga ternyata berdarah Indonesia seperti Denny Landzaat, Giovanny van Bronkhorst, Robin Van Persie, Jeffrey Leiwakabessy, Delano Hill, John Heitinga, Sergio Van Dijk, Bobby Petta, dan Michael Mols.

Hal ini sangat disayangkan mengingat kondisi sepakbola di Tanah Air yang memprihatinkan. Bukannya ingin merendahkan kualitas pemain lokal yang memang bermain bagi klub lokal, namun kita juga harus dapat mengandalkan segala sesuatu yang masih bisa kita raih selama kesempatan itu masih terbuka lebar bagi kita demi kemajuan kita sendiri. Tidak ada salahnya mempatenkan mereka-mereka yang masih berada di luar negeri untuk memperkuat timnas kita sehingga kita bisa mengikuti kompetisi akbar Piala Dunia, setidaknya menjadi juara Piala Asia terlebih dahulu.

Sumber:

http://www.indowebster.web.id/archive/index.php/t-21138.html



“Koloni” Makassar Di Benua Australia
June 3, 2009, 12:32 AM
Filed under: Essay

Sekitar 181 tahun lalu ada seorang pelaut yang bernama Matthew Flinders berlabuh di Teluk Carpentaria, Australia Utara. Flinders mengitari Semenanjung Wilberforce, ujung terutara Tanah Arnhem dan tiba-tiba ia melihat enam perahu asing muncul di cakrawala dan ternyata perahu-perahu asing tersebut adalah perahu-perahu Makassar. Itulah pertama kalinya orang Barat mencatat kehadiran perahu Makassar di wilayah perairan Australia. Seperempat abad kemudian antara tahun 1828 dan 1829, 34 perahu lagi tampak berkeliaran di Teluk Raffles. Seluruh perahu tersebut mengaku berpangkalan di pelabuhan Makassar. Ke-40 kapal tersebut baru sebagian kecil dari seluruh armada Sulawesi Selatan yang sepanjang abad ke-19 berlabuh di Australia. Tujuan para pelaut tersebut adalah mencari teripang.

Mencari teripang bukanlah sekedar upaya untuk mengisi kebutuhan pokok untuk diri sendiri. Teripang-teripang yang diambil tersebut harus melalui proses perebusan, pengeringan, dan seringkali pewarnaan. Pada saat itu, teripang merupakan barang dagangan mahal dan laris di Asia. Di tangan para koki asal Cina, ia berubah menjadi masakan yang cukup menggugah selera. Menurut C.C. Macknight dimana di dalam bukunya “The Voyage To Marege” (Melbourne University Press, 1976), teripang memang jarang dikonsumsi oleh bangsa lain. Teripang termasuk jenis holothuria scabra yang senang bermukim di laut dangkal atau perairan yang kecil ombaknya. Namun mendapatkan teripang dengan ukuran besar tertentu dan mutu yang baik tidaklah mudah. Hal tersebut yang membawa para pelaut Makassar menyeberang hingga Australia dan mungkin melalui orang Australia pula nama ‘teripang’ terserap ke dalam bahasa Inggris, menjadi ‘trepang’ dengan mengalahkan istilah kuno Inggrisnya sendiri yaitu ‘swallo’.

Menurut Flinders, yang dibutuhkan oleh para pelaut Makassar di Australia pada tahun 1803 adalah jenis-jenis teripang koro dan batu. Jenis teripang ini baru 20 tahun kemudian ditemui di Kepulauan Aru, Maluku. Teripang biasanya ditemukan dalam posisi terguling malas. Saat teripang-teripang tersebut dikumpulkan, hewan santapan itu dicuci dan isi perutnya dikeluarkan. Dagingnya yang berotot tebal direbus atau disiram air panas lalu dipendam beberapa lama di bawah pasir. Seusai pemendaman lalu dikeringkan melalui proses pengasapan. Jika sudah kering secara menyeluruh akan disimpan dengan baik dan makanan ini bisa awet hingga jangka waktu yang lama.

Selain untuk masakan, orang-orang Cina memanfaatkan teripang ini juga sebagai obat. Mereka memakainya untuk campuran sop, sayuran, atau sebagai bahan gorengan. Sebagai obat, manfaatnya konon menyamai ginseng hingga orang Cina sendiri menyebutnya hai-sen, ginseng laut. Namun pemakaiannya sebagai lauk di Cina sebenarnya belum terlalu lama dan baru sekitar abad ke-16, hal tersebut terkemuka di dalam buku “Shih-Wupen-Ts’ao”. Pada saat abad ke-17, muncul berbagai referensi tentang teripang di Cina Utara dan Jepang. Dan pada tahun 1715, teripang masuk dalam ‘Wakan Sansai Tsue’, sebuah ensiklopedi Jepang.

Ketika pemerintahan kolonial Belanda mulai ‘menanamkan kukunya’ di Nusantara pada awal abad ke-17, mereka segera menerapkan monopoli di bidang perdagangan. Misalnya dengan mengadakan pengawasan ketat terhadap perdagangan cengkeh di Maluku dan memutuskan rantai perdagangan antara Maluku dan kawasan Nusantara bagian barat. Dalam keadaan tersebut, banyak pedagang-pedagang pesaing Belanda yaitu Inggris, Denmark, Portugis, Malaya, India, dan lain-lain yang dianggap mengganggu lalu lintas perdagangan Belanda karena para pesaing tersebut melihat Makassar sebagai pelabuhan dagang yang cocok. Dengan politik ‘adu domba’ yang terkenal di antara berbagai kerajaan kecil, akhirnya Belanda berhasil mematahkan peranan Makassar hanya di bidang cengkeh, bukan peranannya di bidang komoditi lain berkat letak Makassar yang berada di pusat lalu lintas perdagangan maritim. Dalam posisi seperti ini, Makassar menjadi pusat budidaya teripang dan warga di Australia bagian utara memandang hal ini sebagai perkembangan yang wajar dikarenakan faktor-faktor tersebut.

Pada pertengahan tahun 1966, Macknight mengunjungi kawasan Milingimbi dan menggali situs yang besar di Teluk Anuru. Di tempat tersebut Macknight menemukan lebih banyak sumber sejarah dan sastra. Dengan bahan-bahan ini Macknight maju mempertahankan gelar doktornya pada Universitas Nasional Australia, 1969.

Para pelaut Makassar memberi nama sendiri untuk kawasan utara Australia ini yaitu ‘Marege’. Dalam kamus Makassar, penyebutan istilah ini dipakai untuk menyebut orang Aborigin dan kawasan yang dihuni mereka. Dan ada pula nama sendiri untuk pantai Kimberley yaitu ‘Kayu Jawa’. Jalan menuju Marege dan Kayu Jawa menempuh rute yang sama. Berangkat dari Makassar, mereka mengambil sisi barat daya Sulawesi, kemudian turun melintasi Pulau Selayar dan Pulau Tanah Jampea, lalu ke tenggara menuju Timor. Rute yang biasa ditempuh menuju Kawasan Utara ini ialah dengan mengitari ujung timur laut Pulau Timor. Di sini armada pengumpul teripang sering mengisi air minum atau mengumpulkan bambu dan rotan.

Keterangan pertama tentang pembudidayaan teripang orang Makassar dinyatakan oleh surat residen Belanda di Timor pada tahun 1751. Surat itu mengungkapkan bahwa ada keberangkatan sejumlah pedagang dari Timor yang menuju suatu tempat di selatan. Di sana mereka bertemu dengan orang-orang yang mereka duga adalah orang Aborigin. Ketika keterangan ini sampai ketangan direktur VOC di Amsterdam, ia meminta perincian lebih lanjut. Jawaban tersebut diberikan Gubernur Jenderal Hindia Belanda lewat surat tertanggal 15 0ktober 1757 yang berbunyi: “Daerah selatan yang ada di tenggara Timor kerap kali dikunjungi orang, baik pendatang dari Makassar maupun dari Timor sendiri. Sepengetahuan kami, daerah itu cuma menghasilkan teripang, yaitu ikan yang dikeringkan, sejenis ubur-ubur, dan lilin. Laporan VOC ke sana, pada 1705, sekali lagi kami sampaikan kepada Tuan, dan Makassar serta Timor akan kami minta memberikan informasi lebih jauh”. Dalam kaitan dengan surat di atas, residen Timor yang baru memberikan informasi agak banyak, sedangkan residen Makassar tidak terdengar menambahkan keterangannya.

Pada tahun 1760, seorang peneliti bernama Alexander Dalrymple menyelidiki kemungkinan Inggris untuk meluaskan perdagangan ke kawasan Laut Sulu, Sulawesi Utara. Di sana ia melihat orang-orang Bugis sebagai penyalur barang-barang Inggris. Keterangan lain tentang Sulawesi dan penduduknya datang dari Nakhoda Thomas Forrest. Dan ada cerita dari mulut ke mulut di antara orang Makassar sendiri, seperti yang sampai dua kali di dengar oleh Macknight dari penduduk. Konon, setelah armada Makassar dikalahkan Belanda pada tahun 1667, sejumlah perahu berupaya menyelamatkan diri ke selatan. Tibalah mereka di Teluk Carpentaria, Australia, kawasan yang kemudian disebut Marege.

Diceritakan pula di dalam kisah tersebut tentang nama sejumlah juragan perahu yang mereka pakai sebagai nama daerah tempat mereka mendarat. Misalnya Teluk Mangngellai (Teluk Grays) dan Kampung Bapa Paso’ (Father Nail, di selatan Pulau Woodah). Ada pula nama Teluk Mangko’ (Teluk North West), Pulau-pulau Daeng Lompo dan Daeng Besar (di Teluk Palumbu), Kara Karaenga (artinya, tempat para pemimpin bertemu), di Pulau Wobalinna, dan Port Brodthaw. Pada masa-masa belakangan, mereka pulang ke Makassar sekaligus membawa teripang dan konon teripang tersebut adalah teripang pertama dari Marege.

Teripang yang dibudidayakan oleh orang-orang Makassar menjadi teripang yang paling tinggi harganya dikarenakan mutunya yang bagus. Flinders sendiri menilai, teripang koro dan batu memiliki mutu teratas, seperti juga diakui nakhoda-nakhoda kapal asing lainnya. Teripang-teripang Aru dan Tanimbar sedikit di bawahnya.

Perlawatan ke Marege jelas suatu usaha yang sangat keras, penuh tantangan dan resiko untuk kehilangan nyawa dimana tidak menciptakan kekayaan yang berarti. Awak perahu Makassar yang dibawa untuk berlayar ke Australia Utara terdiri dari beragam suku bangsa. Yang terbanyak adalah orang-orang Makassar dan Bugis. Namun tercatat seorang asal Irian dan seorang penduduk Seram. Ada juga sebuah perahu yang berlabuh di Teluk Raffles pada 1829 memiliki nakhoda asal Jawa yang bernama Budiman. Setiap awak kapal mempunyai semacam kode etik pelayaran yang harus memperhatikan tiga kepentingan: pemilik perahu, pemilik modal yang mencukongi perlawatan, dan sang juragan yang bertanggung jawab terhadap pelayaran.

Sebelum perjalanan dimulai, pemilik perahu mencari pemilik modal atau ‘cukong’ dan seorang nakhoda. Namun biasanya pemilik perahu sekaligus menjadi cukongnya, bahkan seringkali menjadi nakhodanya pula. Dan ada pula pemilik kapal yang menjadi nakhoda di kapal orang lain. Sebagai contoh adalah perahu Mannarima yang dimiliki dan dimodali sekaligus oleh Daeng Manye, sedangkan nakhodanya adalah Pua Anye. Padahal Pua Anye sendiri memiliki perahu Kadaron yang dicukongi Daeng manye dengan nakhoda Pato. Kendati kedua perahu ini berangkat dari Makassar pada hari yang berbeda, mereka tiba di Teluk Raffles pada waktu yang sama. Tentang nakhoda, sangat masuk akal apabila sebagian besar terdiri dari orang Makassar dan Bugis. Namun pemilik kapal atau pemilik modal ternyata berasal dari berbagai bangsa yaitu Cina, Melayu, bahkan Belanda. Dengan demikian, dapat ditarik garis antara golongan yang melakukan budi daya teripang dan pengusaha pelayaran.

Seorang kapten biasanya disebut ‘punggawa’ atau ‘nakhoda’ seperti biasa digunakan dalam istilah orang Melayu, sementara para awak disebut ‘sawi’. Ada pula istilah juragang (juragan), yang fungsinya sama dengan kapten. Namun istilah juragan seringkali diasosiasikan dengan nakhoda sebuah perahu dagang, sementara nakhoda dikaitkan dengan kapten perahu pencari teripang. Lalu ada pula seorang juru mudi dan juru batu yang bertugas mengawasi jangkar dan tali-temali. Adapula yang disebut ‘pancawala’ yaitu petugas di tiang agung, sebagai pengawas lalu lintas laut. Menurut Macknight, semua istilah Makassar ini dikenal oleh orang Aborigin di Australia.

Kemampuan navigasi pelaut Makassar banyak ditentukan oleh pengetahuan dan keahlian pribadi si nakhoda dibandingkan dengan “ilmu” yang dapat dipelajari. Hal ini tentunya hanya dapat diperoleh melalui pengalaman bertahun-tahun. Bakat dan naluri kelautan orang Bugis dan Makassar agaknya turut berperan. Matahari, arah angin, dan arus sudah cukup menjadi petunjuk navigasi. Dan tentunya sebelum berlayar, mereka sudah diberi pengetahuan oleh para pendahulunya mengenai dunia kelautan. Juragan Daeng Sarro misalnya, kepada Macknight mengaku masih mengingat dengan jelas hal-hal paling kecil yang memungkinkannya melayarkan perahunya sampai ke Australia.

Pergaulan antara para pendatang Makassar dengan orang Aborigin dapat dibilang akrab mekipun pada mulanya sempat terjadi ketegangan hingga timbul perkelahian. Selain menjadi rekan dagang, orang Aborigin seringkali membantu ‘tamu’nya dari utara ini di rumah-rumah asap. Bekas-bekas tungku pengasapan dan abunya menjadi saksi hubungan mereka.

Adapula bukti-bukti mengenai terjadinya hubungan seksual antara orang Makassar dan wanita Aborigin. Hal ini disebabkan karena di dalam adat Makassar tidak memperbolehkan wanita untuk ikut berlayar. Sebagaimana pelaut umumnya, kebutuhan seksual mereka disalurkan di daerah tujuan. Using Daeng Rangka, seorang Makassar, dikabarkan memiliki 10 anak dari tiga wanita Aborigin di Tanah Arnhem bagian timur. Salah seorang anak perempuannya yang bernama Kunano pernah mengunjungi kampung ayahnya di Makassar pada saat budidaya teripang Makassar di Australia hampir berakhir. Persentuhan kebudayaan pendatang dengan orang Aborigin tidak besar. Yang paling menonjol adalah penggunaan bahasa Makassar sebagai alat komunikasi antara kedua belah pihak yang juga menimbulkan bahasa yang sama di dalam tata bahasa orang Aborigin. Sebagai contoh adalah dariba, taripang, djama (dari jama, bekerja), wukiri (dari ukiri,menulis), botoru (dari botoro’, berjudi), dan billina (dari bilang, menghitung).

Unsur budaya Makassar lainnya yang masih tertinggal di wilayah pantai Australia Utara adalah bentuk perahu kecil lepa-lepa dan juga beberapa peralatan untuk mencari biji besi dan cangklong madat dimana orang Aborigin mengisinya dengan tembakau. Orang Makassar juga cukup meninggalkan kesan di bidang-bidang lain. Hal ini dapat dibuktikan bahwa orang Aborigin menuangkannya dalam bentuk lukisan-lukisan dinding di gua-gua dan kulit pohon asam. Lukisan rumah, perahu, badik, dan orang Makassar terdapat di sekitar Tanah Arnhem.

 

Sumber:

http://majalah.tempointeraktif.com/id/cetak/2004/09/20/SEL/mbm.20040920.SEL86990.id.html

http://ahmadfathulbari.multiply.com/journal/item/3



Hutan Di Papua Sebagai Paru-Paru Indonesia & Dunia
June 2, 2009, 11:51 PM
Filed under: Essay

Propinsi Papua adalah Propinsi yang terletak di wilayah paling timur di Negara Kesatuan Republik Indonesia dan merupakan daerah yang penuh harapan dengan potensi alamnya dan hutannya yang luas menjadikannya sebagai salah satu paru-paru dunia bersama dengan hutan di Amazon dan hutan di Kongo. 

Daerah Papua secara keseluruhan belum banyak disentuh oleh aktivitas manusia dan kaya akan sumber daya alam yang menyajikan peluang untuk berbisnis dan berkembang, meskipun rakyat Papua asli belum bisa menikmati kekayaan alam mereka di tanah mereka sendiri. Tanahnya yang luas dipenuhi oleh hutan, laut, dan keanekaragaman biotanya dan berjuta-juta tanahnya yang cocok untuk dijadikan tanah pertanian. Di dalam buminya, Papua juga menyimpan gas alam, minyak, serta aneka bahan tambang lainnya yang siap untuk diolah dan dipasarkan kepada masyarakat luas.

Papua terletak di sebelah selatan garis khatulistiwa, namun karena daerahnya yang bergunung-gunung maka iklim di Papua menjadi sangat bervariasi melebihi daerah di Indonesia lainnya. Di daerah pesisir barat dan utara beriklim tropis basah dengan curah hujan rata-rata berkisar antara 1.500 – 7.500 mm per tahun. Curah hujan tertinggi terjadi dipesisir pantai utara dan di pegunungan tengah, sedangkan curah hujan terendah terjadi di pesisir pantai selatan. Suhu udara bervariasi sejalan dengan bertambahnya ketinggian. Untuk setiap kenaikan ketinggian 100 m (900 kaki), secara rata-rata suhu akan menurun 0,6°C.

Hutan di Pulau Papua sangat penting bagi kehidupan sehari-hari masyarakat Papua. Namun hutan di Pulau Papua juga memberi manfaat bagi seluruh dunia sebagai ‘paru-paru bumi’. Banyak pihak yang ingin mendukung masyarakat dan Pemerintah Daerah Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat melindungi hutan untuk memetik manfaat sebesar-besarnya, dan bukan dari pembalakan atau pembukaan hutan untuk kelapa sawit. Selain dampak langsung dari pembukaan hutan, dipahami pula bahwa penghancuran hutan melepaskan gas karbon dalam jumlah sangat besar yang kemudian menyumbang proses pemanasan bumi, dan seterusnya menimbulkan perubahan iklim. Krisis iklim atau pemanasan muka bumi yang biasa dikenal dengan nama global warming telah mendorong keadaan iklim yang tidak stabil, termasuk banjir dan kekeringan, meningkatnya tinggi permukaan air laut lebih dari satu meter, serta menyusutnya luas salju di area pegunungan.

Maksimum 9 juta hektar hutan di Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat telah diidentifikasi oleh Departemen Kehutanan untuk dikonversi. Belajar dari pengalaman daerah lain di Indonesia, konversi hutan alam menjadi perkebunan kelapa sawit telah menimbulkan dampak sosial dan lingkungan hidup yang serius yaitu konflik penguasaan tanah, konflik perburuhan, lenyapnya bahan pangan penting, semakin terbatasnya sumber daya untuk kesehatan dan bahan bangunan, pencemaran dan peracunan akibat penggunaan pestisida, dan juga potensi lenyapnya ekosistem hutan untuk selama-lamanya.

Sebagian hutan di Papua kini juga sudah berstatus sebagai hutan produksi. Penetapan status suatu kawasan harus disesuaikan dengan kemampuan daya dukung perlakuan lahannya guna menghindari terjadinya konflik jangka panjang. Penetapan status kawasan hutan yang kurang/tidak tepat atau tidak sesuai dengan kemampuan DDLP (Daya Dukung Perlakuan Lahan) akan menimbulkan konflik di kemudian hari, misalnya terkait dengan kebutuhan hidup masyarakat yang terus meningkat dan juga jumlah penduduk yang semakin bertambah. Pengadaan survei ke kawasan-kawasan pemanfaatan dapat dilakukan untuk memperoleh informasi yang diperlukan sebagai bahan rumusan dalam pengelolaan hutan lestari, khususnya dalam pembangunan hutan produksi alam lestari.

Sebagian besar wilayah Papua merupakan kawasan hutan (97,4%), yang terbagi atas kawasan konversi (42,4%) dan kawasan hutan produksi (55,0%), sedangkan sisanya seluas 2,6% berupa areal penggunaan lain (APL). Data luasan tersebut merupakan hasil pengukuran secara digitasi dari Peta Kawasan Hutan dan Perairan Provinsi Papua yang dipaduserasikan dengan batas administrasi wilayah Kabupaten hasil pemekaran. Hasil pengukuran ulang fungsi hutan tersebut memberikan luasan yang berbeda dan sekaligus dapat dianggap sebagai koreksi terhadap SK Menhutbun No. 891/Kpts-II/1999. Koreksi secara keseluruhan alokasi fungsi hutan tersebut masih bersifat sementara karena harus didukung oleh informasi kesesuaian dengan daya dukung perlakuan lahan (DDPL). Seperti telah disebutkan di atas, bahwa Provinsi Papua memiliki potensi kawasan hutan yang sangat besar, dimana lebih dari setengah kawasan hutan bahkan dari luasan wilayah Provinsi merupakan kawasan hutan produksi.

Luas kawasan hutan Papua berdasarkan Keputusan Menhutbun nomor 891/Kpts-II/1999 seluas 42,224 juta Ha. Kawasan hutan tersebut dibagi kedalam kelompok fungsi hutan lindung, hutan suaka alam dan pelestarian alam, hutan produksi terbatas, hutan produksi tetap, hutan produksi yang dapat dikonversi dan kawasan perairan.

 SISTEM HUTAN KERAKYATAN

            Pemerintah Indonesia telah menawarkan sistem hutan kerakyatan sejak tahun 1998, namun konsep tersebut belum mengedepankan rakyat sebagai aktor utama dalam pengelolaan hutan. Rakyat hanya diajak, dan bukan rakyat yang menentukan sistem pengelolaan hutan. Kemudian di tahun 2003, dikeluarkan kembali pencanangan social forestry oleh pemerintah, yang konsepnya tidak jauh beda dengan konsep hutan kemasyarakatan.

Selain itu, sangat banyak terdapat sistem pengelolaan hutan oleh rakyat yang ditawarkan. Misalnya Perhutani menawarkan konsep Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat dimana masyarakat diperbolehkan untuk melakukan penanaman tanaman semusim di sela tanaman jati, dimana arealnya masih dikelola oleh Perhutani dan masyarakat hanya ikut ‘menumpang’ di lahan tersebut.

Sistem Hutan Kerakyatan memiliki dua kata kunci, yaitu “sistem hutan” dan “kerakyatan”. Sistem hutan untuk menggambarkan bahwa hutan bukan sekedar tegakan kayu, melainkan suatu sistem pengelolaan kawasan yang terdiri dari berbagai elemen, diantaranya hutan alam, hutan sekunder, sungai, danau, kebun, ladang, permukiman, hutan keramat, dan banyak lagi yang tergantung komunitas dan sistem ekologinya. Kerakyatan menegaskan bahwa aktor utama dalam pengelolaan hutan adalah komunitas lokal.

Sistem Hutan Kerakyatan (SHK) memiliki prinsip-prinsip diantaranya bahwa:

– ‘Aktor utama’ pengelola adalah masyarakat lokal dan masyarakat adat.

– Lembaga pengelola dibentuk, dilaksanakan dan dikontrol secara langsung oleh rakyat  bersangkutan.

– Memiliki wilayah yang jelas dan memiliki kepastian hukum yang mendukungnya.

– Interaksi antara masyarakat dengan lingkungannya bersifat langsung dan erat.

– Ekosistem menjadi bagian penting dari sistem kehidupan rakyat setempat.

– Pengetahuan lokal atau indigenous knowledge menempati posisi penting dan melandasi kebijaksanaan dan sistem pengelolaan hutan, disamping pengetahuan modern untuk memperkaya.

– Teknologi yang dipergunakan diutamakan teknologi lokal ataupun jika bukan teknologi lokal, merupakan teknologi yang telah melalui proses adaptasi dan berada dalam batas yang dikuasai oleh rakyat.

– Skala produksi tidak dibatasi, kecuali oleh prinsip kelestarian atau sustainability

– Sistem ekonomi didasarkan atas kesejahteraan bersama.

– Keanekaragaman hayati mendasari berbagai bidangnya, dalam jenis dan genetis, pola budidaya dan pemanfaatan sumberdaya, sistem sosial, sistem ekonomi dan lain sebagainya.

Sistem Hutan Kerakyatan sendiri sebenarnya adalah pola-pola pengelolaan hutan yang telah sejak lama dilakukan oleh rakyat dengan aturan-aturan lokal yang disepakati bersama oleh aturan adat atau aturan lokal. Sistem Hutan Kerakyatan juga tidak mengarah hanya pada kayu, namun akan lebih pada pengembangan pengelolaan hasil hutan non kayu sebagai produk utama dari sistem hutan kerakyatan. Jika akan menebang pohon, hal tersebut hanya lebih pada untuk pemenuhan kebutuhan rumah tangga dan komunitas.

PENGALIHAN FUNGSI HUTAN DI PAPUA ANCAM KEHIDUPAN JUTAAN WARGA PAPUA

Sekitar 1,2 juta orang asli Papua terancam kehidupannya menyusul makin maraknya pengalihan fungsi hutan di Papua menjadi perkebunan kelapa sawit ataupun perkebunan yang lainnya. Menurut Sekretaris Eksekutif Forum Kerjasama Lembaga Swadaya Masyarakat Papua, Sefter Manufandu, hutan bagi masyarakat asli Papua merupakan gudang makanan. Sebab di dalamnya terdapat sumber obat-obatan, makanan, dan berbagai sumber kehidupan sehari-hari bagi kelangsungan hidup generasi ke generasi.

Misalnya untuk pembukaan hutan untuk lahan perkebunan kelapa sawit di Arso, Kabupaten Keerom, tidak mampu mensejahterahkan masyarakat. Padahal, perkebunan itu telah ada sejak 21 tahun yang lalu di atas lahan 50 ribu hektare. Salah satu penyebabnya adalah ongkos angkut dari lahan petani ke pabrik perusahaan. Satu kali angkut hasil kebun kelapa sawit ke pabrik pengolahannya sekitar 1,4 hingga 1,5 juta rupiah.

Perkebunan kelapa sawit yang diharapkan memberi peningkatan pendapatan petani, ternyata semakin menyusahkan mereka. Pendapatan petani sawit jika mengerjakan sendiri Rp 500 ribu per bulannya, jika dikontrakkan kepada orang lain hanya Rp 300 ribu per bulannya sehingga banyak petani yang mengontrakkan lahan sawitnya, karena pendapatannya tidak sebanding dengan ongkos angkut hasil panen.

Selain itu, di bagian selatan Papua, tepatnya di Kabupaten Merauke, ada 31 investor kelapa sawit, misalnya saja PT. Bio Inti Agrindo dan PT. Papua Agro Lestari, masing-masing memiliki sekitar 39 ribu hektare perkebunan kelapa sawit di Distrik Muting dan Distrik Ulilin. Sementara PT. Dongin Prabhawa juga memiliki 39 ribu hektar lahan di Distrik Okaba. Mereka telah mengantongi izin dari gubernur Papua untuk mengurus izin pembukaan hutan dari Departemen Kehutanan pada tahun lalu. Sementara pada Agustus 2008, grup Binladin dari Arab Saudi menyanggupi investasi senilai Rp 39 triliun untuk membiayai Merauke Integrated Food and Energy Forum. Sebagian besar investasi itupun untuk kelapa sawit.

Namun dari hasil riset Forum Kerjasama Lembaga Swadaya Masyarakat dengan masyarakat adat di Merauke, masyarakat khususnya warga Auwyu di Distrik Anim Ha tidak setuju dengan pembukaan lahan ini. Ada indikasi terjadi konspirasi antara pemerintah dengan perusahaan sawit yang ingin berinvestasi di tanah adat mereka.

 

Sumber:

http://www.papua.go.id/

http://kehutanan-papua.com/

http://www.lintasberita.com/Sains/Ancaman_Baru_Bagi_Kelestarian_Hutan_Papua



Imigrasi Inggris Di Australia Pada Abad 19
June 2, 2009, 8:52 PM
Filed under: Essay

Inggris mulai memadati daratan Australia dengan imigrasinya pada abad 19 antara tahun 1850 – 1860 dikarenakan adanya penjelajahan emas di daerah New South Wales dan Victoria. Koloni Inggris yang sebenarnya berada di wilayah Victoria namun banyak pula orang – orang Inggris yang menempati wilayah New South Wales, Tasmania, dan Australia Selatan. Pada waktu itu terjadi semacam gold rush (masa – masa pekerja imigran datang ke daerah tujuan untuk menambang emas)

Orang – orang Inggris banyak memadati daerah New South Wales yang berdatangan dari wilayah Inggris Timur, terutama dari Cambridgeshire, di tahun 1852 dan 1855. Dan banyak pula warga Inggris berasal dari London di tahun – tahun pertengahan yang banyak menempati kota Melbourne di Australia dalam masa ladang emas.

Gold rush membawa banyak masalah pada masa kedatangan para narapidana yang dikirim oleh Inggris ke wilayah Australia. Lebih banyaknya jumlah pria daripada wanita menyebabkan masalah – masalah baru yang dapat melecehkan kaum wanita. Banyak dari mereka dibawa menuju Australia dari Inggris antara tahun 1820an dan pada masa gold rush sekitar tahun 1850an sebagai pemukim bebas (free settlers) dimana di daerah selatan juga berasal dari pedusunan negara.

Hanya sedikit imigran Inggris yang datang dari daerah industri di Inggris. Namun banyak sekali imigran – imigran yang berasal dari kaum marjinal yang datang dari selatan Inggris dan Irlandia. Hal ini menyebabkan sedikitnya industri manufaktur Australia dari arus urbanisasi Australia yang cocok. Pemerintah koloni pun tidak mau mempekerjakan para pemukim bebas yang berasal dari kota – kota yang miskin lantaran mereka hanya memiliki potensi dan kemampuan yang minim. Para penambang untuk Australia Selatan pada sekitar tahun 1840an diambil dari beberapa kota seperti Cornwall, Devon, dan Somerset.

Sewaktu itu banyak kekecewaan yang timbul yang diakibatkan oleh para imigran yang menyebabkan imigran yang berasal dari kaum marjinal ditolak di dalam kepegawaian, pelayan – pelayan yang berasal dari Irlandia menjadi tidak populer, dan yang paling mengenaskan adalah beberapa wanita dari Inggris dibawa ke Australia untuk dijadikan pekerja seks komersil. Warga imigran dari Inggris pun yang berasal dari pedusunan yang tinggal di Australia hanya sedikit yang berguna dan tidak memegang peranan penting.

Dari kaum imigran dusun sendiri merasa bebas dengan pindahnya tempat tinggal mereka dari Inggris ke Australia dan kehidupan desa mereka lebih didominasi oleh para petani dan sekaligus sebagai tuan tanahnya. Namun apabila para imigran dusun ini tidak senang dengan para tuan tanah yang telah mempekerjakan mereka tersebut, mereka dapat berpindah sesuai keinginan mereka. Walau sudah ada hukum tentang Master and Servant Acts dalam model Inggris telah dijalankan di daerah koloni di Australia, hal ini tidak terlalu efektif untuk dilaksanakan karena para imigran merasa sangat bebas.

Kesadaran pembangunan oleh pemerintah baru terlaksana 60 tahun setelah tahun 1788 berinisiatif untuk lebih tegas kepada para imigran yang menjadi pemukim bebas ini agar mereka bekerja lebih baik untuk membangun wilayahnya. Walaupun sebagian besar imigran berasal dari Inggris, namun ada juga sejumlah penduduk yang berasal dari Irlandia dan Skotlandia. Elit politik Australia berasal dari golongan Inggris dan Skotlandia yang memiliki latar belakang kerajaan.

Wanita juga memegang peranan penting dalam dunia imigrasi Australia, salah satunya seorang imigran wanita yang bernama Caroline Chisholm. Dia memulai kerja dengan membereskan para imigran di daerah pedusunan New South Wales pada 1840. Dia melanjutkan kerjanya di Inggris setelah tahun 1846. Yang menjadi pikiran utamanya adalah keluarga – keluarga para imigran harus bisa menetap.

Pekerjaan Chisholm ini adalah pekerjaan sukarela namun dia mendapatkan banyak resiko di Australia. Terjun langsung ke lapangan merupakan tantangan besar dimana Australia merupakan wilayah yang mayoritas penduduknya adalah kaum pria. Banyak penetap wanita di Australia dieskploitasi ke tempat dimana wanita berhenti berkegiatan secara keseluruhan. Wanita – wanita dari suku Aborigin juga dieksploitasi oleh para penetap disaat para wanita Inggris sedang tidak ada.

IMIGRASI DI AKHIR ABAD 19
Pada tahun 1875, di Inggris, Wales, dan Skotlandia merupakan tempat – tempat industri dan banyak urbanisasi. Hanya Irlandia yang masih menjadi berupa pedusunan walaupun memiliki populasi penduduk yang cukup besar. Untuk para pekerja, pemerintah masih melihat dari para penduduk dusun ini.

Kemudian pemerintah membuat program untuk menyamaratakan jumlah penduduk agar tidak terlalu padat. Victoria menjadi wilayah terpadat penduduknya disebabkan oleh gold rush. Pemerintah merencanakan untuk memindahkan penduduk menuju Australia Selatan, Australia Barat, dan Tasmania. Namun Australia Selatan masih ‘kaget’ dengan perpindahan penduduk ini begitu pula dengan dua daerah tujuan lainnya. Kebanyakan imigran Inggris memadati New South Wales dan Queensland.

Queensland pun menjadi cemas untuk mengisi lahan – lahan kosong dan akhirnya membangun agrikultur dengan membawa sektor – sektor kerja dari berbagai sumber. Tidak hanya imigran dari Britania saja yang datang ke tanah Australia, melainkan ada pula imigran – imigran yang berdatangan dari Cina yang memadati kota Cairns di wilayah Queensland yang menyebabkan kota tersebut memiliki sebutan China Town. Queensland juga kedatangan imigran – imigran lain dari wilayah Eropa lain seperti dari Jerman dan Skandinavia. Meskipun di Queensland memiliki banyak karakter kosmopolitan, wilayah ini masih terlihat sebagai wilayah Britania. Kota – kota yang banyak dipadati oleh imigran di Queensland adalah Brisbane, Townsville, dan Rockhampton. Dan disekitar kota Brisbane pun ada kota – kota pinggiran seperti Enoggera, Toowong, Moreton East, dan Oxley.

Berbeda dengan situasi di New South Wales yang jauh lebih padat kondisinya dibandingkan dengan Queensland dan memiliki industri pertambangan batu bara. Ada pula yang sudah menetap di Queensland namun berpindah menuju selatan dan wilayah Victoria seringkali menikmati migrasi Inggris dari tetangganya, New South Wales, tanpa mengeluarkan uang sepeser pun. New South Wales juga menjadi tujuan wilayah imigran terfavorit dari Irlandia. New South Wales menjadi daerah tujuan bagi para pekerja industri terutama dari ladang batu bara. Beberapa wilayah Inggris juga memberikan andil besar bagi New South Wales seperti datangnya imigran – imigran dari kota – kota di Inggris; Middlesex, Yorkshire, Lancashire, Durham, Staffordshire, Warwickshire, dan Northumberland. Hal ini menandakan bahwa kedatangan imigran Inggris kali ini membawa dampak penting.

Sebenarnya ada juga imigran – imigran yang berasal dari Amerika Serikat dan Prancis, namun hal ini disudahi oleh pemerintah kolonial. Imigran – imigran ini datang sebagai pekerja industri dan pertambangan. Pada tahun 1877, perekrutan pekerja di New South Wales diambil dari wilayah Inggris juga yang menjadi kota pertambangan seperti dari Sheffield, Bishop Auckland, Wellington (Salop), dan Guinsborough (Yorkshire). Ada pula yang direkrut dari Bradford, Manchester, Newcastle, Leeds, dan Bristol. Mereka semua sangat mahir di dalam pertambangan batu bara.

Akhirnya pada tahun 1880an, imigran – imigran asal Inggris menjadi fondasi dari industri – industri di daerah koloni. Daerah pedusunan berubah menjadi daerah perkotaan seiring berkembangnya industri dan jumlah penduduk. Walaupun banyak imigran dari Inggris, namun diakui bahwa kualitas para pekerja jauh lebih baik yang berasal dari Skotlandia dan Jerman.

Karena makin banyaknya penduduk di Australia, para penguasa Australia cemas akan terjadinya lagi pengalaman – pengalaman pahit dari kaum pengemis dan kaum papa yang pernah terjadi di wilayah Australia di wilayah perkotaan. Namun, dengan majunya wilayah ini, sudah ada sedikitnya kehormatan bagi Australia dibandingkan dengan pikiran orang – orang di Australia yang berpikir bahwa wilayah Australia hanya sebagai tempat pembuangan narapidana – narapidana dari Inggris. Wilayah – wilayah di Australia pun menjadi lebih sejahtera. Kondisi – kondisi masa lalu Australia yang buruk telah menghilang sedikit demi sedikit. Pada akhir abad ke 19, para imigran – imigran tersebut telah menjadi keluarga – keluarga yang lebih berpendidikan dari sebelumnya.

PEKERJA, PENAMBANG, PEDAGANG, DAN PELAYAN LOKAL
Seperti yang telah dijelaskan, banyak sekali para imigran – imigran di Australia yang berasal dari British (Inggris, Skotlandia, Wales, dan Irlandia). Mereka semua berasal dari West Tarring atau biasa dikenal dengan wilayah Sussex pada tahun 1830an. Dan berasal pula dari desa – desa di Sussex seperti Beckley, Northiam, Salehurst, Bodiam, dan Ewhurst. Ada juga yang berasal dari wilayah Tackley (Oxon), Thirplow, Foxton (dari wilayah Cambridgeshire) pada tahun 1850an. Ada juga yang berasal dari Distrik Kent yang dibagi dari beberapa wilayah seperti Rolvenden, Sandhurst, Benenden, dan Woodchurch. Dari wilayah Somerset dikirim dari bagiannya seperti dari Ilchester yang mengirimkan banyak imigran pula.

Pada tahun 1873 banyak pekerja – pekerja perkebunan (agrikultur) direkrut dari Buckinghamshire dan desa – desa sekitarnya seperti Waddesdon, Long Gresdon, dan Aston Clinton. Setibanya di Australia, mereka bekerja menjadi pegawai – pegawai, agen pekerja, dan ada juga yang menjadi pendeta yang berkenan di hati imigran.

Banyak penambang yang tiba di Australia yang memang telah memiliki dan menguasai bidang pertambangan. Imigran yang bekerja sebagai penambang ini banyak direkrut dari perusahaan – perusahaan penambangan yang terjalin hubungannya antara Inggris dan Australia. Sebelumnya di Australia pun sudah berdatangan para penambang amatir karena adanya gold rush.

Para penambang Inggris terbagi menjadi 2 kelompok penambang; penambang logam dan penambang batu bara. Para penambang metal biasa didatangkan dari Cornwall, Somerset, Devon, Derbyshire, bagian utara Yorkshire, dan Cumberland. Sedangkan para penambang batu bara banyak didatangkan dari wilayah – wilayah lain di Inggris. Daerah – daerah penambangan batu bara di wilayah Australia banyak berada di wilayah Queensland seperti Newcastle, Wollongong, Ipswich (bukan yang di Inggris), dan Illawara.

IMIGRAN KELAS MENENGAH
Kebanyakan dari imigran kelas menengah ini datang ke Australia pada abad ke 19 dari Inggris dari kalangan pekerja pedalaman dan kaum urban. Bagian terpenting dalam memproduksi dan memplopori masyarakat tidak dicari dari kaum imigran kelas menengah ini. Hanya sedikit yang memiliki pekerjaan legal dari kaum ini dan kebanyakan anggotanya dari kalangan Protestan Irlandia. Para pengajar sring didatangkan dari Inggris dan berasal dari kalangan pendeta Anglikan, Methodist, Kongregasional, dan Baptis.

Wanita kelas menengah direkrut sebagai guru privat dan pekerjaan ini sudah terlalu banyak pelakunya namun kehidupan mereka lebih baik dibandingkan para pembantu biasa. Banyak pula dari kaum wanita kelas menengah ini yang bekerja dalam dunia kepegawaian.

WARISAN DARI ABAD 19
Australia dibuat pada abad 19, banyak kota – kota besar selain Canberra dan Gold Coast yang sudah mapan. Negara ini terbuka bagi semua daerahnya hingga ke daerah terpencil. Pada abad ke 19, sudah ada jalur kereta api yang menghubungkan antara pantai Queensland hingga Australia Barat. Hal ini terjadi karena kecakapan para pekerja dari Inggris sebagai kaum mayoritas yang bernaung dibawah keagungan Kekaisaran Britania bahkan mereka sudah cukup puas meskipun tidak tinggal disana.

Pada abad ke 19 juga, wilayah Britania Raya lebih ditujukan kepada orang Inggris. Orang Irlandia terlihat seperti mengalami kemunduran setelah masa kelaparan sekitar tahun 1840an. Orang Wales hanya sedikit dan terpencil di dalam kelompok khusus. Namun dari kalangan orang Skotlandia dapat mengimbangi meskipun banyak predikat buruk mereka di dalam kejahatan – kejahatan. Tetapi orang Inggris tetap menjadi dominan di dalam jumlah penduduk, kekuasaan industi, kemakmuran, politik, agama, dan pendidikan.

Hal tersebut tidak terjadi di Australia menjelang akhir abad ke 19 bahwa imigran – imigran dari Inggris dengan jelas berkelanjutan dari jumlah populasi. Pada tahun 1901, hanya 10,4% dari orang Australia yang lahir di Inggris. Orang – orang Inggris tidak lagi menjadi segalanya di Australia sejak abad ke 20.

 

Sumber:

http://www.dfat.gov.au/aib/history.html

http://www.questia.com/read/107174726?title=From%20White%20Australia%20to%20Woomera%3a%20%20The%20Story%20of%20Australian%20Immigration

http://www.immi.gov.au/media/publications/statistics/federation/timeline1.pdf

http://www.naa.gov.au/collection/explore/migration/index.aspx



Kisah John Titor, pengelana waktu dari tahun 2036.
April 14, 2009, 3:05 AM
Filed under: Essay

Meskipun telah ada cerita kartun fiksi yang amat populer di Indonesia mengenai mesin waktu, Doraemon, beberapa orang di Indonesia masih percaya dengan salah satu cerita nyata dari Amerika Serikat mengenai pengakuan seseorang tentang perjalanan melintasi waktu yang membuat dunia gempar pada tahun 2000 hingga sekarang yang dilakoni oleh “John Titor”, seseorang yang mengaku berasal dari tahun 2036.  Banyak orang yang tidak percaya akan semua yang dia ceritakan dan banyak pula yang menganggap bahwa John adalah orang gila dan hanya ingin populer. Banyak orang yang berpikir bahwa lebih memungkinkan melakukan perjalanan ke masa depan dengan cara menaiki roket yang hampir sampai kecepatan cahayanya keluar angkasa, lalu kembali lagi ke bumi dengan membawa konsep hukum relativitas yang menyatakan kalau waktu di dalam roket lebih pelan daripada waktu di obyek yang relatif “tetap ditempat”, yaitu bumi. Jadi, mungkin bisa saja orang naik roket kecepatan tinggi keluar dan kembali selama satu tahun, tapi ternyata di bumi sudah berjalan selama 2 tahun.

John masuk pada sebuah forum milis Time Travel Institute pada Nopember 2000 – Maret 2001.  Dia sempat mengambil gambar tentang mesin waktunya dan menyebarkan foto – foto mesin waktunya beserta buku manualnya kepada beberapa orang. Pada tanggal 21 Maret 2001, John mengucapkan selamat tinggal kepada forum tersebut dan dia kembali ke tahun 2036. Awalnya, John masuk ke dalam forum dengan menggunakan nama TimeTravel_0 tepatnya pada tanggal 2 Nopember 2000. “John Titor” bukanlah nama asli dari orang tersebut, dia merahasiakan nama aslinya. Nama John Titor baru dipakai setelah John diharuskan memasukkan nama untuk sign up agar mendapatkan account di Art Bell BBS di mana kemudian ia melanjutkan menulis beberapa pengalamannya sebagai seorang pengelana waktu dari tahun 2036. Banyak pula orang yang percaya dengannya dan menanyakan beberapa hal seputar masa depan. Spekulasi dan investigasi tentang siapakah John Titor sebenarnya, dan mengapa John Titor masuk ke dalam milis dan membocorkan sedikit rahasia tentang masa depan itu masih dipertanyakan hingga saat ini.

John mengaku sebagai seorang militer Amerika Serikat yang datang dari tahun 2036 dimana pada saat itu ada sistem Unix yang sedang mengalami time error dan dikenal dengan sebutan “UNIX 2038 Timeout Error”. John ditugaskan oleh pemimpinnya untuk datang ke tahun 1975 untuk mengambil sebuah komputer portabel pertama di dunia yaitu IBM 5100 (di beberapa tempat ada yang menyebutnya IBM 5110) karena di dalam pc tersebut terdapat suatu bahasa Unix yang dapat memecahkan berbagai bahasa Unix. John dipilih oleh petingginya untuk melaksanakan tugas mulia ini karena kakeknya John terlibat langsung di dalam pembuatan dan pemrograman komputer IBM 5100 ini. Menurut John, teknologi di dalam pc tersebut hanya diketahui oleh segelintir orang dari IBM dan teknologi tersebut tidak pernah lagi di pasang di dalam pc pada generasi selanjutnya hingga tahun 2036. Maka dari itu, IBM 5100 sangat diperlukan pada tahun 2036 yang sedang mengalami time error pada sistem komputernya. Hal ini kemudian dikonfirmasi kepada pihak IBM dan diakui pula oleh pihak IBM. Pihak IBM kaget karena mereka mengakui bahwa hanya 5 orang saja yang mengetahui hal tersebut dan itu terjadi pada tahun 1975.

John berkata bahwa dia lahir di Tampa Bay, Florida, pada tahun 1998. Dalam perjalanan pulang ke tahun 2036 setelah mendapatkan IBM 5100 di tahun 1975, dia mengunjungi tahun 2000 untuk menggenapi janjinya kepada sang ayah dan memperingati keluarganya dan dunia tentang bahaya – bahaya yang akan terjadi di masa depan. Dia juga sempat melihat dirinya pada waktu itu yang masih berumur 2 tahun. Seperti pada sebuah film “Back To The Future”, John memasang alat mesin waktunya di dalam mobil yang dikendarainya untuk melintasi waktu. Sebelum kembali ke tahun 2036, John meminta pada sang ayah untuk merekam prosesi mesin waktu yang sedang dia pakai untuk kembali ke tahun 2036 dan di upload ke internet melalui pengacara keluarganya, Larry Harber. Tapi entah mengapa rekaman video tersebut tidak jadi di upload. Ada yang berkata bahwa rekaman itu telah diambil oleh pihak intelijen Amerika Serikat dan akan dihancurkan. Video keberangkatan John juga sempat dipublikasikan ke beberapa orang namun tidak dipublikasikan kembali oleh orang – orang yang telah diberikan. Menurut cerita dari John, kini keluarga John sudah pindah dari Florida ke Nebraska setelah John kembali ke tahun 2036. Percaya atau tidak, seminggu setelah keluarga John pindah dari Florida, terjadi badai topan yang dashyat yang menerjang Florida. John berkata bahwa keberadaan keluarganya sangat dirahasiakan agar terhindar dari publik yang ingin mengetahui mengenai dirinya lebih jauh.

Setelah kepergian John untuk kembali ke asalnya pada tanggal 21 Maret 2001, John dianggap oleh forum tersebut sebagai orang yang cerdas dan mempunyai ilmu pengetahuan sains yang mendalam, walaupun John mengakui bahwa dia adalah seorang yang memiliki spesialisasi di dalam bidang sejarah, bukan di dalam bidang komputer maupun sains. Sebelum pergi, John sedikit membocorkan tentang mesin waktu yang dia pakai untuk mengarungi waktu. John mengaku mesin waktu yang dipakainya adalah tipe C204 yang dapat memuat sampai 3 orang. Mesin ini dibuat dan dimiliki oleh militer Amerika Serikat di tahun 2036. John berkata bahwa mesin waktu bukanlah barang yang aneh di jamannya. Ada lagi tipe lebih besar yaitu tipe C206 yang dibuat oleh GE (General Electric) dan dapat memuat hingga 7 orang. Mesin ini hanya mampu membawa mereka maksimum 60 tahun ke masa silam dengan kecepatan 10tahun/jam. Militer Amerika Serikat sejak tahun 1989 telah mengembangkan alat penghasil spinning gravity device (gravitasi berputar) di dalam proyek 8914-I. Alat ini sangat besar dan tinggi, berputar dengan poros vertikal berlawanan dengan jarum jam. Putarannya sangat cepat sehingga dimensi waktu dan ruang akan terdistorsi. Energi yg dihasilkan adalah elektromagnetik. Alat ini mirip sekali dengan C204.

mesin-waktu-john-titor2Mesin waktu yang digunakan oleh John Titor.

 

Dibawah ini adalah komponen – komponen yang diperlukan untuk menciptakan sebuah gravity distortion system, yang akan memungkinkan perjalanan waktu:

  • Magnetic housing units for dual microsignularities.
  • Electron injection manifold to alter mass and gravity of microsingularities.
  • Cooling and x-ray venting system
  • Gravity sensors (VGL system)
  • Main clocks (4 cesium units)
  • Main computer units (3)

Berikut ini adalah beberapa fakta mengenai mesin waktu yang diungkapkan oleh John Titor:

  1. “Apapun yang saya lakukan dengan pergi ke masa silam tidak akan merubah masa depan saya, karena kita hidup di dalam sebuah dimensi yang berbeda.” 
  2. “Mesin waktu sangat berat bentuknya, panjang seperti box amunisi dengan beban mencapai 500kg, anda harus menaruh alat itu di dalam mobil dengan suspensi yang kuat. Jika dinyalakan akan terbentuk oleh suatu ‘black hole’ – ‘lubang hitam’ – kecil yang mirip dengan donat, dan disaat itulah semuanya akan terhisap ke dalam ‘black hole’ itu termasuk mobilnya menuju ke tempat tujuan. Dalam proses perjalanan akan sangat panas, sulit untuk bernafas, dan jika tujuan anda nanti ternyata ada benda atau tembok yg menghalangi perjalanan anda di titik poin yang sama, maka secara langsung mesin waktu akan ‘switch off’. Jadi, anda tidak akan pindah dari 1 titik ke titik yg lain, tapi anda pindah ke dimensi yang lain.”
  3. “Hukum fisika Kuantum Everett-Wheeler adalah teori yang benar untuk mesin waktu, model ini juga bisa disebut “Many-Worlds Interpretation” atau dengan kata lain banyak hasil kemungkinan yang akan terjadi di masa depan berdasarkan keputusan saat ini. Contohnya, jika saya kembali ke tahun 1975 untuk membunuh kakek saya, lalu saya kembali ke 2036, saya akan tetap ada/eksis, begitupun orang tua saya. Tetapi di dimensi tahun 1975 dan masa depannya saya dan orangtua saya tidak eksis. Inilah yang disebut many worlds interpretation.”

Dengan beberapa ungkapan mengenai mesin waktu di atas, dapat diketahui bahwa John adalah seseorang yang ‘terbuka namun tertutup.’ Maksudnya adalah dia akan memprediksi beberapa kejadian yang akan terjadi di masa depan namun tidak akan memberikan secara rinci bagaimana kejadian itu akan terjadi, walaupun dalam beberapa kasus dia menyebutkan beberapa oknum kelompok maupun negara dalam informasinya. John tidak akan memberikan tips untuk memperkaya diri, tidak akan memberikan orang untuk memprediksi hari kematian, dan tidak akan menyebutkan nama lengkap seseorang yang akan berpengaruh di masa depan nantinya. Dalam posting yang ditulis oleh John selama 5 bulan, dia memprediksikan ada beberapa hal dan fakta yang akan terjadi:

  1. John berkata bahwa internet pada masanya tidak tergantung pada ISP (Internet Service Provider). Internet model baru bisa “berdiri” sendiri yang terpisah dari backbone, bisa diinstal di mana saja, bisa dipindah – pindah, dan mengisi energinya sendiri. Hal ini telah diwujudkan dengan teknologi Wi-Fi dan sejenisnya.
  2. John menyebutkan inisial ‘Tipler’ dan ‘Kerr’, ilmuwan yang akan berpengaruh dengan mesin waktu. Nama kedua orang ini dilacak keberadaannya dan ternyata mereka eksis dan mereka adalah profesor fisika.
  3. Pada awal tahun 2001, John menyebut sebuah puisi berjudul “A Soldier’s Winter” (Musim Dingin Seorang Tentara). Dia mengaku bahwa puisi tersebut ditulis oleh seorang personil militer Amerika Serikat. Saat penulis puisi itu meninggal, puisinya dirangkai ulang dan dijadikan simbol di masa – masa John menjadi militer. Pada kenyataannya, seorang pensiunan kolonel dari Angkatan Darat Amerika Serikat bernama Larry Cluck menulis puisi berjudul “A Soldier’s Winter”.
  4. Konsep ‘black hole’ yang menjadi dasar mesin waktu akan dikemukakan oleh CERN (Conseil Europeen pour la Recherche Nucleaire) pada tahun 2001. Pada kenyataanya di tahun 2000 – 2001 belum banyak orang yang mengetahui tentang organisasi CERN. Ternyata benar pada tahun 2001, CERN menyatakan menemukan konsep ‘black hole’.
  5. John memberikan rincian mesin waktu yang dia pakai kepada kita, yang berisi “Magnetic Housing Units for dual microsignularities, Electron injection manifold to alter mass and gravity of microsingularities, Cooling and x-ray venting system, Gravity sensors (VGL system), Main clocks (4 cesium units), Main computer units (3).” Para ilmuwan pada zaman sekarang menyatakan dengan mesin dan cara operasional yang disampaikan John memungkinkan kita untuk melakukan perjalanan lintas waktu.
  6. Prediksi John tentang Amerika Serikat bahwa mulai tahun 2004 Amerika Serikat akan mulai terjadi perang saudara, dimana antara tahun 2004 – 2008 terjadi demonstrasi dan pergolakan di dalam Amerika Serikat, tahun 2008 – 2015 adalah puncak dari perang saudara itu. Hal ini tidak terbukti mengingat sekarang kita sedang berada di tahun 2009 dan tidak ada yang terjadi di dalam tubuh Amerika Serikat kecuali krisis ekonomi yang melanda seluruh dunia.
  7. Perang dunia ke – 3 akan dimulai pada tahun 2015. Dia menyatakan bahwa Rusia akan menyerang Amerika Serikat dengan nuklir, dan secara langsung perang saudara di Amerika Serikat akan berhenti dan mereka bersatu melawan Rusia. Akhirnya Amerika Serikat hanya akan terbentuk menjadi 5 negara bagian dengan presiden setiap negara bagian masing – masing dan ibukota akan berpindah ke Nebraska. Menurutnya, kota – kota besar di Amerika Serikat akan hancur begitupun di Eropa, Cina, dan Timur Tengah. Sedangkan negara – negara yang tidak terlibat perang dunia ke – 3 adalah negara – negara di benua Amerika Selatan, Australia, dan New Zealand. Perang ini akan menghilangkan populasi dunia sekitar 3 milyar jiwa.
  8. Cina akan mengambil kesempatan emas saat Amerika Serikat sedang kacau dengan perang saudaranya. Cina akan menjajah Taiwan, Korea, dan Jepang. Tanda – tanda ke arah itu sudah muncul pada masa sekarang namun belum terbukti. Cina telah menghabiskan banyak uang untuk memperbaharui persenjataannya hingga Amerika Serikat penasaran.
  9. Setelah perang dunia ke – 3 berakhir, barang – barang seperti printer manual, sepeda, perahu dayung, dan peralatan kerja tangan akan sangat berguna. Kendaraan yang menggunakan bahan bakar minyak (BBM) sudah tidak digunakan lagi, kebanyakan orang menggunakan sepeda untuk alat transportasinya.
  10. John mengatakan bahwa Olimpiade Athena 2004 adalah Olimpiade yang terakhir dan akan kembali digelar pada tahun 2040. Hal ini sempat membuat orang percaya karena Olimpiade Beijing 2008 belum tentu dilaksanakan sebab masih banyak protes dari dunia mengenai sikap pemerintah Cina terhadap Tibet. Namun prediksi John kembali salah setelah sukses dilaksanakannya Olimpiade Beijing 2008.
  11. Penyakit sapi gila akan mewabah dan makin parah serta sulit dihentikan di tahun 2036, karena penyakit ini dapat berdiam dalam tubuh manusia selama 30 tahun lebih dan mulai bereaksi saat kita menjelang tua. Adapula penelitian pada suku Fore, salah satu suku di negara Papua Nugini yang menunjukkan bahwa kuman penyebab sapi gila bisa bersembunyi di dalam tubuh manusia selama 56 tahun tanpa menunjukkan gejala. Banyak orang suku Fore terkena penyakit serupa sapi gila akibat kanibalisme. Namun mereka hidup puluhan tahun sebelum akhirnya mati mengenaskan, yaitu paranoid, menjadi gila terlebih dahulu lalu meninggal. Para ahli berteori bahwa kemungkinan besar orang akan bisa mengidap sapi gila tanpa mengetahuinya selama puluhan tahun. Dan saat penyakit tersebut sudah “matang”, maka takkan tertolong lagi.
  12. Penyakit AIDS masih belum ada obatnya pada tahun 2036. Penyakit kanker sudah bisa di atasi dengan menggunakan virus yang melawan kanker itu sendiri. Dan pada tahun 2007 di Calgary, Canada, beberapa ilmuwan mengembangkan virus yang bisa dipakai untuk menyerang sel kanker bernama Virus VSV (Vesicular Stomatitis Virus ). Virus ini berhasil memerangi sel kanker pada tikus – tikus percobaan.
  13. Makanan dan air bersih sangat sulit didapatkan akibat radiasi nuklir. Di tahun 2036, setiap orang akan sangat berhati – hati dengan makanan dan minuman yang akan dikonsumsinya. John mengatakan bahwa dia sangat ketakutan karena di tahun 2000 – 2001, dia melihat orang dapat memesan makanan sesuka hatinya seperti di restoran fast food atau junk food tanpa mengecek kesehatan makanan tersebut terlebih dahulu. Buah – buahan biasa masih aman untuk dikonsumsi di tahun 2036.
  14. Di masa depan, kehidupan bertani akan kembali, orang akan menjadi sangat religius, dan banyak orang yang menyesalkan Perang Dunia ke – 3 terjadi hanya karena permainan politik belaka dan tidak menghasilkan apa – apa.
  15. John pernah mengatakan bahwa di New York akan ada gedung pencakar langit yang akan hilang dalam waktu dekat dan tidak ditemukannya senjata pemusnah massal di timur tengah akan tetap membuat politik Amerika Serikat untuk terus berperang. Kedua hal tersebut kemudian terjadi mengingat tragedi 11 September 2001 dan tidak ditemukannya senjata pemusnah massal yang dituduh oleh George Bush di Irak.
  16. Perkembangan Informasi dan Teknologi (IT) akan sangat berkembang. Dia mengatakan bahwa akan banyak orang yang membuat video mereka sendiri dan di masukkan ke dalam internet. Hal tersebut telah dibuktikan dengan adanya situs youtube, metacafe, dan yang lainnya. Lalu, sistem internet nanti akan independen dengan hanya menggunakan alat kecil dengan bantuan tenaga matahari dan dapat memancarkan sinyal sejauh 60mil. Sistem yang dimaksud adalah wi-max.
  17. Di tahun 2036, energi hidrogen dan energi panas matahari berperan sangat penting dan lebih efisien.
  18. Anda baru saja melewati bencana yang cukup besar, coba pikirkan kembali apa yang ditakuti 1- 1,5 tahun yang lalu (tahun 1999). Menurut milis di forum, yang dimaksud adalah bencana Y2K. Mereka menyatakan bahwa John telah kembali ke tahun 1975 untuk memberitahu para imuwan tentang bencana Y2K.
  19. Menurut John, kehidupan sosial di tatanan masyarakat sekarang sangat parah, karena kita semua sangat malas, egois, individualis, acuh untuk bersosialisasi seperti domba, dan banyak orang yang menghabiskan waktu untuk hal – hal yang tidak berguna. Cobalah untuk bangun dan melihat keadaan di sekeliling kita bahwa kondisi alam makin rusak, bumi ini sedang sekarat.
  20. Di tahun 2036, tidak ada organisasi kesehatan yang akan melindungi kita. Apabila anda sakit parah, bersiap – siaplah untuk menggali lubang kubur anda sendiri.
  21. Temperatur dan suhu di dunia akan menjadi lebih dingin.
  22. Saya tahu tentang prediksi bangsa Maya tentang tahun 2012. Memang sesuatu hal yang unik akan terjadi, kira – kira seperti cerita tentang laut merah dan orang Mesir. Tapi hal itu tidak akan membuat dunia ini kiamat.
  23. Perusahaan seperti Yahoo dan Microsoft tidak akan ada lagi pada tahun 2036. 
  24. Hingga tahun 2036, kita masih tidak menemukan apa – apa di planet mars. Begitu pun tentang ufo yang masih menjadi misteri walaupun para ilmuwan di tahun 2036 pernah menyatakan bahwa ufo juga adalah para time traveler dari masa depan dan alien adalah manusia yang telah berevolusi akibat perubahan alam, radiasi, maupun akibat perang. Para alien memiliki struktur tubuh dan organ – organ internal yang sama dengan manusia.

Adapun beberapa hal yang disarankan oleh John Titor kepada kita untuk kita lakukan agar kehidupan kita menjadi lebih baik, namun tetap saja tidak akan bisa mengubah masa depan yang telah dialami oleh John Titor. Keputusan apapun yang dibuat di masa kini, tidak akan mempengaruhi kehidupan di masa depan karena jawaban dari semua pilihan itu sudah terlihat olehnya. Berikut adalah beberapa saran yang dikemukakan oleh John Titor kepada kita;

  • Jangan makan atau menggunakan produk dari binatang yang diberi makan atau makan dari bangkai sesama jenisnya.
  • Jangan mencium atau berhubungan intim dengan orang yang anda tidak kenal.
  • Belajarlah dasar – dasar sanitasi dan penjernihan air.
  • Biasakanlah menggunakan senjata api, belajar menembak, dan membersihkan senjata api.
  • Selalu sediakan kotak P3K dan belajarlah untuk menggunakannya.
  • Carilah 5 orang sahabat yang anda percaya dalam radius 100mil dan selalu berkontak dengan mereka.
  • Ambilah salinan Undang – Undang Amerika Serikat dan bacalah.
  • Kurangilah kebiasaan makanan anda yang berlebihan.
  • Carilah sepeda dan 2 set ban cadangan, bersepedalah 10 mil setiap minggu.
  • Pikirkanlah kembali apa yang harus anda bawa jika kamu harus meninggalkan rumah dalam waktu 10 menit dan tidak akan pernah kembali lagi.

 

Sumber:

http://www.johntitor.com/

http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=6218&post=1

http://johntitor.strategicbrains.com/

http://misteridunia.wordpress.com/2008/10/11/john-titor-penjelajah-waktu/