Wordpress Blog of Rinus Muntu


Resensi Film “Knowing” (2009)
June 3, 2009, 8:28 AM
Filed under: Resensi Buku dan Film

Film yang disutradarai oleh Alex Proyas ini merupakan film drama fiksi yang cukup menegangkan dan juga mengandung makna. Pemeran utama dalam film ini adalah John Koestler yang diperankan oleh Nicolas Cage, seorang aktor Hollywood kawakan asal Amerika Serikat. Lama pemutaran film ini sekitar 2 jam.

Berawal dari seorang guru di sebuah sekolah dasar yang memberi ‘pekerjaan sekolah’ kepada para muridnya untuk menggambar imajinasi mereka tentang semua yang mereka impikan di 50 tahun mendatang. Adapun seorang murid wanita yang menuliskan angka-angka saja, bukan menggambar. Dan setelah semua murid menyelesaikan gambarnya, dimasukkanlah gambar-gambar mereka di dalam sebuah ‘kapsul waktu’ dan disimpan oleh pihak sekolah untuk dibuka 50 tahun mendatang.

Setelah waktu berlangsung selama 50 tahun, kapsul tersebut kembali dibuka oleh pihak sekolah pada saat itu dan pembukaan kapsul ini juga dihadiri oleh para orang tua murid dan seorang guru senior yang memberikan tugas pada murid-muridnya sewaktu 50 tahun lalu. Caleb Koestler, mendapatkan kertas berisikan angka-angka tersebut dan sejak saat itu Caleb sering dibayang-bayangi oleh para pria yang tidak dikenal. Ayah dari Caleb, John Koestler, melihat apa yang didapatkan oleh anaknya tersebut. Karena seorang dosen matematika, John sangat berminat dengan angka-angka yang ada pada kertas tersebut. Betapa kagetnya John ketika ia memeriksa maksud dari angka-angka tersebut adalah deskripsi kejadian-kejadian selama 50 tahun terakhir dan selanjutnya. Banyak kejadian-kejadian yang tertulis dibalik angka-angka tersebut, salah satu contohnya adalah Tragedi WTC 11 September 2001. John juga menemukan kejadian-kejadian lain dibalik angka-angka tersebut yang akan terjadi di masa yang akan datang dan seperti layaknya ramalan.

Ternyata angka-angka tersebut dapat teruji akurasinya ketika John melintasi sebuah jalan raya yang sedang mengalami kemacetan dan tiba-tiba ada sebuah pesawat terbang yang jatuh dan menewaskan sejumlah orang yang sesuai dengan apa yang tertulis di balik angka-angka tersebut.

Kisah ini berlangsung terus hingga pada akhirnya ada angka-angka terakhir dimana tertulis bahwa semua orang di bumi harus mengalami ajalnya. John dan anaknya berupaya menyelamatkan diri. Dan ternyata, para pria tak dikenal yang mengikuti Caleb adalah orang-orang yang berasal dari luar angkasa yang datang ke bumi untuk menyelamatkan anak-anak kecil, hanya anak kecil, yang akan dibawa kepada dunia yang baru, yang belum dihuni oleh satu manusia pun. Ajal pun tidak dapat dihindari oleh seluruh umat manusia di bumi, termasuk John.



Resensi Buku “Fidel Castro: 60 Tahun Melawan Amerika”
June 2, 2009, 9:12 PM
Filed under: Resensi Buku dan Film

Buku ini menceritakan tentang latar belakang Fidel Castro, kegigihannya dalam memberontak demi kepentingan rakyat banyak, dan tentang awal hingga akhir masa kepemimpinannya sebagai presiden Kuba. Beliau merupakan sosok yang sangat luar biasa dalam bidang kepemimpinan. Beliau memiliki nama lengkap Fidel Alejandro Castro Ruz lahir pada 13 Agustus 1926 di kota Biran, Kuba. Beliau menjabat jabatan penting sebagai presiden Kuba sejak tahun1976 hingga 2008.

Beliau juga merupakan sosok yang pemberani dan anti korupsi dimana sang penulis berkata bahwa dia membunuh semua antek-antek pendahulunya, Fulgencio Batista, yang kerap kali berbuat korupsi sehingga menyengsarakan ekonomi rakyat Kuba. Fidel lahir di dalam keluarga Katolik dan dididik secara Katolik, namun beliau sebenarnya adalah seorang atheis dan seorang komunis karena terpengaruh oleh faham komunis dari Uni Soviet, sekutunya.

Fidel juga mendapatkan sebutan ‘Robin Hood dari Sierra Maestra’ karena beliau menolong para petani miskin dengan mengadili orang-orang kaya di dalam sebuah pengadilan palsu. Setelah itu, tanah-tanahnya diberikan kepada para petani miskin.

Beliau juga merupakan seseorang yang pintar, dibuktikan setelah menamatkan studinya di bidang hokum. Setelah meraih doktor pada bidang hukum di tahun 1950, beliau memprotes dan memimpin gerakan bawah tanah anti-pemerintah atas pengambil-alihan kekuasaan lewat kudeta kepada presiden Kuba saat itu, Fulgencio Batista, pada tahun 1952. Dan kemudian pada tahun 1953, beliau memimpin serangan ke barak militer Moncada Santiago de Cuba, namun gagal. Sebanyak 69 orang dari 111 orang yang ikut dalam gerakan tersebut tewas dan beliau dipenjara selama 15 tahun. Hal ini menunjukkan kepeduliannya terhadap nasib rakyat Kuba yang saat itu menderita akibat para petinggi di Kuba banyak melakukan tindakan korupsi. Fenomena ini juga terjadi di Indonesia namun tidak ada satupun rakyat Indonesia yang berani berbuat tegas seperti Fidel Castro.

Di dalam buku ini juga menceritakan bahwa setelah beliau mendapatkan pengampunan dan dibebaskan pada 15 Mei 1955, beliau langsung memimpin upaya penggulingan kediktatoran Batista. Perlawanan ini kemudian dikenal dengan Gerakan 26 Juli. Pada 7 Juli 1955, ia lari ke Meksiko dan bertemu dengan pejuang revolusioner terkenal asal Argentina, Ernesto ‘Che’ Guevara.

Menurut buku tersebut, sosok Fidel Castro merupakan sosok yang amat sangat anti dengan Amerika Serikat dimana beliau membenci system ekonomi kapitalis. Di luar Kuba, Castro mulai menggalang kekuatan untuk melawan dominasi Amerika Serikat dan bekas negara Uni Soviet. Setelah runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1991, cita-cita untuk menggalang kekuatan untuk melawan dominasi Amerika Serikat mulai diwujudkan dengan bertemu Hugo Chavez di Venezuela dan Evo Morales dari Bolivia.

Diceritakan bahwa kondisi fisik Fidel Castro sempat menurun setelah jatuh ketika berpidato pada 2004. Waktu itu, lutut kiri dan lengan kanannya terluka. Mendekati hari ulang tahun beliau yang ke-80 pada 13 Agustus 2006, beliau menyerahkan tampuk kepemimpinannya untuk sementara waktu kepada adiknya, Raúl Castro, menjadi sebagai Presiden Kuba. Penyerahan kekuasaan ini merupakan penyerahan kekuasaan untuk pertama kalinya sejak beliau memerintah Kuba pada tahun 1959.

Demikianlah apa yang disampaikan oleh sang penulis, A. Pambudi, mengenai sosok Fidel Castro yang keras dan disegani oleh negara-negara lain karena keuletannya dalam menjunjung tinggi rakyat kecil dan dapat menstabilkan kondisi ekonominya tanpa harus bergantung kepada kekuatan Amerika Serikat.



Resensi Film “Gallipolli” (1981)
June 2, 2009, 8:59 PM
Filed under: Resensi Buku dan Film

Film ini adalah sebuah film yang disutradarai oleh Peter Weir, seorang warga negara Australia dan film ini dibuat pada tahun 1981 untuk mengenang para tentara ANZAC (Australia New Zealand Army Corps) yang gugur akibat perang melawan tentara Turki di dalam perang dunia ke-1. Adapun para pemeran dalam film ini adalah para bintang-bintang film terkenal pada masa kini yaitu Mel Gibson dan Mark Lee. 

Film ini menceritakan kondisi dua tentara ANZAC dimana mereka belum mengikuti perang hingga akhirnya mereka dengan terpaksa harus mengikuti perang ini untuk melindungi tentara Inggris yang ingin melewati daerah Gallipolli tersebut. Disini terlihat bagaimana nasionalisme tentara Australia yang menamakan diri mereka sendiri (Australian Army Corps) yang menunjukkan bahwa mereka adalah orang Australia, bukan lagi orang-orang pendatang di daerah tersebut. Mel Gibson berperan sebagai Frank Dunne Judd dan Mark Lee berperan sebagai Archy Hamilton. Diceritakan bahwa mereka berdua bertemu di dalam sebuah karnaval atletik. 

Sebenarnya, kondisi perang di film ini tidak terlalu diceritakan dan hanya digunakan sebagai latar belakang untuk menceritakan 2 anak muda saat itu yang ikut dari Australia le Gallipolli. Film ini dibagi menjadi 3 latar tempat yaitu yang pertama saat berada di Australia Barat, lalu menuju Mesir, dan yang terakhir adalah di Gallipolli (Turki).

 Di dalam film ini juga terlihat bagaimana arogansi tentara Inggris yang sudah takut untuk maju dan rela mengorbankan tentara ANZAC yang belum berpengalaman dalam berperang. Saat itu, tentara Inggris masih menganggap bahwa tentara ANZAC atau warga Australia pada umumnya adalah keturunan budak yang tidak patut untuk dihargai.