Wordpress Blog of Rinus Muntu


Bon Jovi – Lost Highway
June 3, 2009, 5:37 PM
Filed under: Kord dan Lirik Lagu Favorit

G
In my rearview mirror
My life is getting clearer
    Em                        C
The sunset sighs and slowly disappears
 G
These trinkets once were treasure
Life changes like the weather
         Em                                       C
You grow up, grow old, or you hit the road ’round here

Bridge
     D
So I drive
        C 
Watching white lines passing by
    D 
My plastic dashboard Jesus
 F
Waiting there to greet us

Reff
 C    G       Em       D
Hey I finally found my way
C    G         Em       D
Said goodbye to yesterday
 C      G          Em       D              C   G     Em  D          
Hit the gas, there ain’t no brakes on this lost highway
         C        G          Em      D
Yeah, I’m busting loose, I’m lettin’ go
C   G       Em   D
Out on this open road
C     G       Em  D           F       C
It’s independence day on this lost highway

         C  C/B  Em  D
Hey hey, hey hey

    C  C/B  Em  D
Hey hey, hey hey

G
Don’t know where I’m going
But I know where I’ve been
  Em                     C
I’m afraid of going back again

Bridge
     D
So I drive
          C
Years and miles are flying by
   D
And waiting there to greet us
      F
Is my plastic dashboard Jesus

Reff
      C   G       Em       D
Hey Hey I finally found my way
C    G         Em       D
Said goodbye to yesterday
 C      G          Em       D              C   G     Em  D          
Hit the gas, there ain’t no brakes on this lost highway
         C        G          Em      D
Yeah, I’m busting loose, I’m lettin’ go
C   G       Em   D
Out on this open road
C     G       Em  D           F       C
It’s independence day on this lost highway…..Hey hey

Solo
C  C/B  Em  D
C  C/B  Em  D
C  C/B  Em  D
C  C/B  Em  D

Middle
   G
Oh patron saint of lonely souls
  G/F#
Tell this boy which way to go
  G 
Guide the car, you’ve got the keys
  C
Farewell to mediocrity
Em      
Kicking off the cruise control
    D/F#
And turning up the radio
    G
Got just enough religion
      C
And a half a tank of gas
      C  C/B  Am  G  G/F# G  
Come on
      D
Let’s go

Reff
      C   G       Em       D
Hey Hey I finally found my way
C    G         Em       D
Said goodbye to yesterday
 C      G          Em       D              C   G     Em  D          
Hit the gas, there ain’t no brakes on this lost highway
         C        G          Em      D
Yeah, I’m busting loose, I’m lettin’ go
C   G       Em   D
Out on this open road
C     G       Em  D           F       C         
It’s independence day on this lost highway…..

C   Em   D
Hey hey

C   Em   D
Hey hey

C   Em   D
Hey hey

C               Em

On this lost highway..



Bon Jovi – Born To Be My Baby
June 3, 2009, 5:29 PM
Filed under: Kord dan Lirik Lagu Favorit

Two, three, four!

F#m                   D
   Na na na na na na na na na na na
E                     A       E
   Na na na na na na na na na na na
F#m                   D             E 
   Na na na na na na na na na na na

 F#m
Rainy night and we worked all day
 D
Both got jobs cause there’s bills to pay
 E
We got something they can’t take away
A4  A    A4  A
Our love, our lives

  F#m
Close the door leave the cold outside
   D
I don’t need nothing when I’m by your side
 E
We got something that’ll never die
A4   A     A4   A
Our dreams, our pride

Bridge
          F                 G   Am
My heart beats like a drum (all night)
           F                         G Am
Flesh to flesh, one to one (and it’s alright)
          F
And I’ll never let go
               Am                      E
Cause there’s something I know deep inside

Reff
          Am            F
You were born to be my baby
                G               C
And baby I was made to be your man
G      Am             F
We got something to believe in
                   G             Am
Even if we don’t know where to stand
      F                  C
Only God would know the reasons
       Am                      G
But I bet he must have had a plan
                 Am            F
Cause your were born to be my baby
                G               C
And baby I was made to be your man

 F#m                      
Light a candle, blow the world away
 D
Table for two on a TV tray
E
It ain’t fancy baby, that’s okay
A4  A    A4  A
Our time, our way

    F#m
So hold me close, better hang on tight
 D
Buckle up baby, it’s a bumpy ride
  E
Two kids hitching down the road of life
A4  A     A4  A
Our world, our fight

Bridge 2
        F                 G   Am
If we stand side by side (all night)
            F                           G Am
There’s a chance we’ll get by (and it’s alright)
           F
And I’ll know that you’ll live
       Am                        E
In my heart till the day that I die

(back to reff)

Am F G C-G (3x) Am F G G

Bridge 3
          F                 G   Am
My heart beats like a drum (all night)
           F                         G Am
Flesh to flesh, one to one (and it’s alright)
          F
And I’ll never let go
               Am                      E
Cause there’s something I know deep inside

(back to reff)

Ending
Am                   F
  Na na na na na na na na na na na
G                    C       -G
  Na na na na na na na na na na na



Resensi Film “Knowing” (2009)
June 3, 2009, 8:28 AM
Filed under: Resensi Buku dan Film

Film yang disutradarai oleh Alex Proyas ini merupakan film drama fiksi yang cukup menegangkan dan juga mengandung makna. Pemeran utama dalam film ini adalah John Koestler yang diperankan oleh Nicolas Cage, seorang aktor Hollywood kawakan asal Amerika Serikat. Lama pemutaran film ini sekitar 2 jam.

Berawal dari seorang guru di sebuah sekolah dasar yang memberi ‘pekerjaan sekolah’ kepada para muridnya untuk menggambar imajinasi mereka tentang semua yang mereka impikan di 50 tahun mendatang. Adapun seorang murid wanita yang menuliskan angka-angka saja, bukan menggambar. Dan setelah semua murid menyelesaikan gambarnya, dimasukkanlah gambar-gambar mereka di dalam sebuah ‘kapsul waktu’ dan disimpan oleh pihak sekolah untuk dibuka 50 tahun mendatang.

Setelah waktu berlangsung selama 50 tahun, kapsul tersebut kembali dibuka oleh pihak sekolah pada saat itu dan pembukaan kapsul ini juga dihadiri oleh para orang tua murid dan seorang guru senior yang memberikan tugas pada murid-muridnya sewaktu 50 tahun lalu. Caleb Koestler, mendapatkan kertas berisikan angka-angka tersebut dan sejak saat itu Caleb sering dibayang-bayangi oleh para pria yang tidak dikenal. Ayah dari Caleb, John Koestler, melihat apa yang didapatkan oleh anaknya tersebut. Karena seorang dosen matematika, John sangat berminat dengan angka-angka yang ada pada kertas tersebut. Betapa kagetnya John ketika ia memeriksa maksud dari angka-angka tersebut adalah deskripsi kejadian-kejadian selama 50 tahun terakhir dan selanjutnya. Banyak kejadian-kejadian yang tertulis dibalik angka-angka tersebut, salah satu contohnya adalah Tragedi WTC 11 September 2001. John juga menemukan kejadian-kejadian lain dibalik angka-angka tersebut yang akan terjadi di masa yang akan datang dan seperti layaknya ramalan.

Ternyata angka-angka tersebut dapat teruji akurasinya ketika John melintasi sebuah jalan raya yang sedang mengalami kemacetan dan tiba-tiba ada sebuah pesawat terbang yang jatuh dan menewaskan sejumlah orang yang sesuai dengan apa yang tertulis di balik angka-angka tersebut.

Kisah ini berlangsung terus hingga pada akhirnya ada angka-angka terakhir dimana tertulis bahwa semua orang di bumi harus mengalami ajalnya. John dan anaknya berupaya menyelamatkan diri. Dan ternyata, para pria tak dikenal yang mengikuti Caleb adalah orang-orang yang berasal dari luar angkasa yang datang ke bumi untuk menyelamatkan anak-anak kecil, hanya anak kecil, yang akan dibawa kepada dunia yang baru, yang belum dihuni oleh satu manusia pun. Ajal pun tidak dapat dihindari oleh seluruh umat manusia di bumi, termasuk John.



Pengalaman Buruk Di Mikrolet Margonda
June 3, 2009, 12:47 AM
Filed under: Pengalaman

Kejadian ini terjadi pada hari Minggu, 8 Maret 2009. Saya terjebak dalam modus kejahatan di Margonda Raya. Sekitar pukul 11.00, saya bertolak dari tempat kost teman saya, Tanu, untuk pergi ke tempat dimana saya akan rapat kerja dengan suatu organisasi di daerah Haji Kucen, Kalimulya. Untuk pergi menuju tempat tersebut saya harus naik angkot apa saja menuju Terminal Depok, lalu dilanjutkan dengan menumpangi angkot D.10.

Saya berjalan dari Kutek (kukusan teknik) menuju Margonda melewati FT, FIB, PSJ, St. UI, dan Barel (balik rel). Tidak ada yang menarik dalam perjalanan tersebut. Setibanya di Margonda, depan es pocong, saya menyeberang jalan dan menunggu angkot di depan Kober. Saya melihat-lihat angkot yang bangku depan sebelah supirnya kosong karena saya sedang merokok dan tidak mau mengganggu penumpang lain yang berada di belakang karena saya sedang merokok.

Akhirnya saya mendapati angkot 112. Saya naik dan duduk di sebelah sang supir. Di dalam angkot tersebut sudah ada seorang perempuan remaja duduk di belakang, hanya sendirian, katakanlah dia Ms.A. Tak lama naik seorang pria setengah baya tampak seperti seorang kantoran, menurut saya dia bukan orang jahat, katakanlah dia Mr.B. Lalu naik lagi seorang kantoran setengah baya, menurut saya dia juga salah satu komplotan penjahat, katakanlah dia Mr.C. Dan bersamaan dengan Mr.C, naik pula seorang pria setengah baya namun dandanannya seperti tukang becak yang kusam, penjahat, katakanlah dia Mr.D. Agak jauh, naik lagi seorang pria setengah baya berbadan gendut besar, menurut saya di adalah seorang komplotan juga, katakanlah dia Mr.E.

Awalnya Mr.E naik angkot tersebut duduk di belakang, namun beberapa saat dia pindah ke depan dan menyuruh saya duduk di belakang. Akhirnya saya duduk di belakang diantara Mr.C dan Mr.B, karena saya pun juga ketakutan dengan Mr.E yang sangar. Diseberang saya ada Ms.A dan Mr.D.

Di belakang, Mr.D membagikan sebuah kertas bertuliskan penawaran jasa pijat refleksi. Dia membagikan kertas itu kepada saya, Ms.A, Mr.C, dan Mr.B. Awalnya Mr.D mempraktekkan jasanya itu kepada Mr.B namun hanya sebentar, Mr.B pun terlihat kebingungan karena Mr.D tiba-tiba memijit begitu saja. Setelah itu Mr.D beralih memijit kepada saya. Bodohnya adalah saya tidak menyadari bahwa saya sedang dibuat lengah oleh sang penjahat, Mr.D. Dia terus memijit kedua kaki saya dan tangan kanan saya. Sambil memijit, dia bertanya pada saya kalau saya suka olahraga apa. Saya menjawab kalau saya tidak suka olahraga. Setelah memijit, Mr.D menyuruh saya untuk melihat no.32 pada kertas yang dibagikan olehnya, lalu dia turun dari angkot.

Di dalam kertas tersebut tidak ada penomoran sama sekali, yang ada hanyalah point-point yang ditunjukan dengan tanda titik, bukan dengan nomor. Mr.C bertanya pada saya; “No.32 yang mana ya mas?” lalu saya jawab tidak tau karena saya malas melihat kertas tersebut, saya fokus pada perjalanan. Setelah jalan beberapa saat. Mr. E berkata pada saya; “Mas, hp nya diambil sama yang tadi mijit.” Sebagai seorang manusia, saya refleks memeriksa isi kantong saya, ternyata benar hp saya telah hilang, Nokia 3120 classic. Dengan bodohnya saya turun angkot dan mencoba mengejar. Setelah kira-kira 5 detik saya turun, saya ingin melihat angkotnya dan menghafalkan plat no angkot, tapi angkot tersebut sudah pergi bagaikan hantu. Saya pun kehilangan arah, tidak tau harus menghubungi siapa karena semua data saya hanya ada di hp. Saya hanya hafal no tlp rmh saya, ibu saya, dan 2 orang teman saya.

Saya melapor polisi namun hasilnya nihil. Akhirnya saya menelepon salah satu teman saya dari wartel di dekat Terminal Depok dan bercerita kalau hp saya baru digondol orang. Saya meminta tolong dia untuk menelepon hp saya dan bernegosiasi dengan si pencuri, hasilnya pun nihil.

Jadi, saran saya adalah:
1. Jangan taruh hp di kantong celana maupun baju
2. Jangan bermain hp di mikrolet
3. Hati-hati dengan orang-orang yang sok menawarkan jasa
4. Jangan panik dalam keadaan ini

Semoga tidak ada lagi korban seperti saya. Terima Kasih.



“Koloni” Makassar Di Benua Australia
June 3, 2009, 12:32 AM
Filed under: Essay

Sekitar 181 tahun lalu ada seorang pelaut yang bernama Matthew Flinders berlabuh di Teluk Carpentaria, Australia Utara. Flinders mengitari Semenanjung Wilberforce, ujung terutara Tanah Arnhem dan tiba-tiba ia melihat enam perahu asing muncul di cakrawala dan ternyata perahu-perahu asing tersebut adalah perahu-perahu Makassar. Itulah pertama kalinya orang Barat mencatat kehadiran perahu Makassar di wilayah perairan Australia. Seperempat abad kemudian antara tahun 1828 dan 1829, 34 perahu lagi tampak berkeliaran di Teluk Raffles. Seluruh perahu tersebut mengaku berpangkalan di pelabuhan Makassar. Ke-40 kapal tersebut baru sebagian kecil dari seluruh armada Sulawesi Selatan yang sepanjang abad ke-19 berlabuh di Australia. Tujuan para pelaut tersebut adalah mencari teripang.

Mencari teripang bukanlah sekedar upaya untuk mengisi kebutuhan pokok untuk diri sendiri. Teripang-teripang yang diambil tersebut harus melalui proses perebusan, pengeringan, dan seringkali pewarnaan. Pada saat itu, teripang merupakan barang dagangan mahal dan laris di Asia. Di tangan para koki asal Cina, ia berubah menjadi masakan yang cukup menggugah selera. Menurut C.C. Macknight dimana di dalam bukunya “The Voyage To Marege” (Melbourne University Press, 1976), teripang memang jarang dikonsumsi oleh bangsa lain. Teripang termasuk jenis holothuria scabra yang senang bermukim di laut dangkal atau perairan yang kecil ombaknya. Namun mendapatkan teripang dengan ukuran besar tertentu dan mutu yang baik tidaklah mudah. Hal tersebut yang membawa para pelaut Makassar menyeberang hingga Australia dan mungkin melalui orang Australia pula nama ‘teripang’ terserap ke dalam bahasa Inggris, menjadi ‘trepang’ dengan mengalahkan istilah kuno Inggrisnya sendiri yaitu ‘swallo’.

Menurut Flinders, yang dibutuhkan oleh para pelaut Makassar di Australia pada tahun 1803 adalah jenis-jenis teripang koro dan batu. Jenis teripang ini baru 20 tahun kemudian ditemui di Kepulauan Aru, Maluku. Teripang biasanya ditemukan dalam posisi terguling malas. Saat teripang-teripang tersebut dikumpulkan, hewan santapan itu dicuci dan isi perutnya dikeluarkan. Dagingnya yang berotot tebal direbus atau disiram air panas lalu dipendam beberapa lama di bawah pasir. Seusai pemendaman lalu dikeringkan melalui proses pengasapan. Jika sudah kering secara menyeluruh akan disimpan dengan baik dan makanan ini bisa awet hingga jangka waktu yang lama.

Selain untuk masakan, orang-orang Cina memanfaatkan teripang ini juga sebagai obat. Mereka memakainya untuk campuran sop, sayuran, atau sebagai bahan gorengan. Sebagai obat, manfaatnya konon menyamai ginseng hingga orang Cina sendiri menyebutnya hai-sen, ginseng laut. Namun pemakaiannya sebagai lauk di Cina sebenarnya belum terlalu lama dan baru sekitar abad ke-16, hal tersebut terkemuka di dalam buku “Shih-Wupen-Ts’ao”. Pada saat abad ke-17, muncul berbagai referensi tentang teripang di Cina Utara dan Jepang. Dan pada tahun 1715, teripang masuk dalam ‘Wakan Sansai Tsue’, sebuah ensiklopedi Jepang.

Ketika pemerintahan kolonial Belanda mulai ‘menanamkan kukunya’ di Nusantara pada awal abad ke-17, mereka segera menerapkan monopoli di bidang perdagangan. Misalnya dengan mengadakan pengawasan ketat terhadap perdagangan cengkeh di Maluku dan memutuskan rantai perdagangan antara Maluku dan kawasan Nusantara bagian barat. Dalam keadaan tersebut, banyak pedagang-pedagang pesaing Belanda yaitu Inggris, Denmark, Portugis, Malaya, India, dan lain-lain yang dianggap mengganggu lalu lintas perdagangan Belanda karena para pesaing tersebut melihat Makassar sebagai pelabuhan dagang yang cocok. Dengan politik ‘adu domba’ yang terkenal di antara berbagai kerajaan kecil, akhirnya Belanda berhasil mematahkan peranan Makassar hanya di bidang cengkeh, bukan peranannya di bidang komoditi lain berkat letak Makassar yang berada di pusat lalu lintas perdagangan maritim. Dalam posisi seperti ini, Makassar menjadi pusat budidaya teripang dan warga di Australia bagian utara memandang hal ini sebagai perkembangan yang wajar dikarenakan faktor-faktor tersebut.

Pada pertengahan tahun 1966, Macknight mengunjungi kawasan Milingimbi dan menggali situs yang besar di Teluk Anuru. Di tempat tersebut Macknight menemukan lebih banyak sumber sejarah dan sastra. Dengan bahan-bahan ini Macknight maju mempertahankan gelar doktornya pada Universitas Nasional Australia, 1969.

Para pelaut Makassar memberi nama sendiri untuk kawasan utara Australia ini yaitu ‘Marege’. Dalam kamus Makassar, penyebutan istilah ini dipakai untuk menyebut orang Aborigin dan kawasan yang dihuni mereka. Dan ada pula nama sendiri untuk pantai Kimberley yaitu ‘Kayu Jawa’. Jalan menuju Marege dan Kayu Jawa menempuh rute yang sama. Berangkat dari Makassar, mereka mengambil sisi barat daya Sulawesi, kemudian turun melintasi Pulau Selayar dan Pulau Tanah Jampea, lalu ke tenggara menuju Timor. Rute yang biasa ditempuh menuju Kawasan Utara ini ialah dengan mengitari ujung timur laut Pulau Timor. Di sini armada pengumpul teripang sering mengisi air minum atau mengumpulkan bambu dan rotan.

Keterangan pertama tentang pembudidayaan teripang orang Makassar dinyatakan oleh surat residen Belanda di Timor pada tahun 1751. Surat itu mengungkapkan bahwa ada keberangkatan sejumlah pedagang dari Timor yang menuju suatu tempat di selatan. Di sana mereka bertemu dengan orang-orang yang mereka duga adalah orang Aborigin. Ketika keterangan ini sampai ketangan direktur VOC di Amsterdam, ia meminta perincian lebih lanjut. Jawaban tersebut diberikan Gubernur Jenderal Hindia Belanda lewat surat tertanggal 15 0ktober 1757 yang berbunyi: “Daerah selatan yang ada di tenggara Timor kerap kali dikunjungi orang, baik pendatang dari Makassar maupun dari Timor sendiri. Sepengetahuan kami, daerah itu cuma menghasilkan teripang, yaitu ikan yang dikeringkan, sejenis ubur-ubur, dan lilin. Laporan VOC ke sana, pada 1705, sekali lagi kami sampaikan kepada Tuan, dan Makassar serta Timor akan kami minta memberikan informasi lebih jauh”. Dalam kaitan dengan surat di atas, residen Timor yang baru memberikan informasi agak banyak, sedangkan residen Makassar tidak terdengar menambahkan keterangannya.

Pada tahun 1760, seorang peneliti bernama Alexander Dalrymple menyelidiki kemungkinan Inggris untuk meluaskan perdagangan ke kawasan Laut Sulu, Sulawesi Utara. Di sana ia melihat orang-orang Bugis sebagai penyalur barang-barang Inggris. Keterangan lain tentang Sulawesi dan penduduknya datang dari Nakhoda Thomas Forrest. Dan ada cerita dari mulut ke mulut di antara orang Makassar sendiri, seperti yang sampai dua kali di dengar oleh Macknight dari penduduk. Konon, setelah armada Makassar dikalahkan Belanda pada tahun 1667, sejumlah perahu berupaya menyelamatkan diri ke selatan. Tibalah mereka di Teluk Carpentaria, Australia, kawasan yang kemudian disebut Marege.

Diceritakan pula di dalam kisah tersebut tentang nama sejumlah juragan perahu yang mereka pakai sebagai nama daerah tempat mereka mendarat. Misalnya Teluk Mangngellai (Teluk Grays) dan Kampung Bapa Paso’ (Father Nail, di selatan Pulau Woodah). Ada pula nama Teluk Mangko’ (Teluk North West), Pulau-pulau Daeng Lompo dan Daeng Besar (di Teluk Palumbu), Kara Karaenga (artinya, tempat para pemimpin bertemu), di Pulau Wobalinna, dan Port Brodthaw. Pada masa-masa belakangan, mereka pulang ke Makassar sekaligus membawa teripang dan konon teripang tersebut adalah teripang pertama dari Marege.

Teripang yang dibudidayakan oleh orang-orang Makassar menjadi teripang yang paling tinggi harganya dikarenakan mutunya yang bagus. Flinders sendiri menilai, teripang koro dan batu memiliki mutu teratas, seperti juga diakui nakhoda-nakhoda kapal asing lainnya. Teripang-teripang Aru dan Tanimbar sedikit di bawahnya.

Perlawatan ke Marege jelas suatu usaha yang sangat keras, penuh tantangan dan resiko untuk kehilangan nyawa dimana tidak menciptakan kekayaan yang berarti. Awak perahu Makassar yang dibawa untuk berlayar ke Australia Utara terdiri dari beragam suku bangsa. Yang terbanyak adalah orang-orang Makassar dan Bugis. Namun tercatat seorang asal Irian dan seorang penduduk Seram. Ada juga sebuah perahu yang berlabuh di Teluk Raffles pada 1829 memiliki nakhoda asal Jawa yang bernama Budiman. Setiap awak kapal mempunyai semacam kode etik pelayaran yang harus memperhatikan tiga kepentingan: pemilik perahu, pemilik modal yang mencukongi perlawatan, dan sang juragan yang bertanggung jawab terhadap pelayaran.

Sebelum perjalanan dimulai, pemilik perahu mencari pemilik modal atau ‘cukong’ dan seorang nakhoda. Namun biasanya pemilik perahu sekaligus menjadi cukongnya, bahkan seringkali menjadi nakhodanya pula. Dan ada pula pemilik kapal yang menjadi nakhoda di kapal orang lain. Sebagai contoh adalah perahu Mannarima yang dimiliki dan dimodali sekaligus oleh Daeng Manye, sedangkan nakhodanya adalah Pua Anye. Padahal Pua Anye sendiri memiliki perahu Kadaron yang dicukongi Daeng manye dengan nakhoda Pato. Kendati kedua perahu ini berangkat dari Makassar pada hari yang berbeda, mereka tiba di Teluk Raffles pada waktu yang sama. Tentang nakhoda, sangat masuk akal apabila sebagian besar terdiri dari orang Makassar dan Bugis. Namun pemilik kapal atau pemilik modal ternyata berasal dari berbagai bangsa yaitu Cina, Melayu, bahkan Belanda. Dengan demikian, dapat ditarik garis antara golongan yang melakukan budi daya teripang dan pengusaha pelayaran.

Seorang kapten biasanya disebut ‘punggawa’ atau ‘nakhoda’ seperti biasa digunakan dalam istilah orang Melayu, sementara para awak disebut ‘sawi’. Ada pula istilah juragang (juragan), yang fungsinya sama dengan kapten. Namun istilah juragan seringkali diasosiasikan dengan nakhoda sebuah perahu dagang, sementara nakhoda dikaitkan dengan kapten perahu pencari teripang. Lalu ada pula seorang juru mudi dan juru batu yang bertugas mengawasi jangkar dan tali-temali. Adapula yang disebut ‘pancawala’ yaitu petugas di tiang agung, sebagai pengawas lalu lintas laut. Menurut Macknight, semua istilah Makassar ini dikenal oleh orang Aborigin di Australia.

Kemampuan navigasi pelaut Makassar banyak ditentukan oleh pengetahuan dan keahlian pribadi si nakhoda dibandingkan dengan “ilmu” yang dapat dipelajari. Hal ini tentunya hanya dapat diperoleh melalui pengalaman bertahun-tahun. Bakat dan naluri kelautan orang Bugis dan Makassar agaknya turut berperan. Matahari, arah angin, dan arus sudah cukup menjadi petunjuk navigasi. Dan tentunya sebelum berlayar, mereka sudah diberi pengetahuan oleh para pendahulunya mengenai dunia kelautan. Juragan Daeng Sarro misalnya, kepada Macknight mengaku masih mengingat dengan jelas hal-hal paling kecil yang memungkinkannya melayarkan perahunya sampai ke Australia.

Pergaulan antara para pendatang Makassar dengan orang Aborigin dapat dibilang akrab mekipun pada mulanya sempat terjadi ketegangan hingga timbul perkelahian. Selain menjadi rekan dagang, orang Aborigin seringkali membantu ‘tamu’nya dari utara ini di rumah-rumah asap. Bekas-bekas tungku pengasapan dan abunya menjadi saksi hubungan mereka.

Adapula bukti-bukti mengenai terjadinya hubungan seksual antara orang Makassar dan wanita Aborigin. Hal ini disebabkan karena di dalam adat Makassar tidak memperbolehkan wanita untuk ikut berlayar. Sebagaimana pelaut umumnya, kebutuhan seksual mereka disalurkan di daerah tujuan. Using Daeng Rangka, seorang Makassar, dikabarkan memiliki 10 anak dari tiga wanita Aborigin di Tanah Arnhem bagian timur. Salah seorang anak perempuannya yang bernama Kunano pernah mengunjungi kampung ayahnya di Makassar pada saat budidaya teripang Makassar di Australia hampir berakhir. Persentuhan kebudayaan pendatang dengan orang Aborigin tidak besar. Yang paling menonjol adalah penggunaan bahasa Makassar sebagai alat komunikasi antara kedua belah pihak yang juga menimbulkan bahasa yang sama di dalam tata bahasa orang Aborigin. Sebagai contoh adalah dariba, taripang, djama (dari jama, bekerja), wukiri (dari ukiri,menulis), botoru (dari botoro’, berjudi), dan billina (dari bilang, menghitung).

Unsur budaya Makassar lainnya yang masih tertinggal di wilayah pantai Australia Utara adalah bentuk perahu kecil lepa-lepa dan juga beberapa peralatan untuk mencari biji besi dan cangklong madat dimana orang Aborigin mengisinya dengan tembakau. Orang Makassar juga cukup meninggalkan kesan di bidang-bidang lain. Hal ini dapat dibuktikan bahwa orang Aborigin menuangkannya dalam bentuk lukisan-lukisan dinding di gua-gua dan kulit pohon asam. Lukisan rumah, perahu, badik, dan orang Makassar terdapat di sekitar Tanah Arnhem.

 

Sumber:

http://majalah.tempointeraktif.com/id/cetak/2004/09/20/SEL/mbm.20040920.SEL86990.id.html

http://ahmadfathulbari.multiply.com/journal/item/3



Perjalananku Ke Pulau Onrust
June 3, 2009, 12:22 AM
Filed under: Pengalaman
 
Teman,kali ini gw nulis tentang pengalaman gw bersama – sama teman yang lain waktu ke onrust kemarin,cuma pengalaman…seru deh,rugi banget yang ga ikut,ga bisa liat Fize triak – triak di perahu..ahahahahaha..emang c sebenernya acara ni gw buat bagi anak sejarah 2008 aja,tapi nyatanya ada 2 senior gw yang ngikut tuh (Gadis n’ Dina)..hehehhehe..pis..

Pagi – pagi gw udah bangun jam 04.30,trus mandi & beres – beres..akhirnya gw brangkat dari rumah jam 05.30 mau ke halte st.UI tapi mampir dulu ke Jagakarsa,mau jemput seorang senior gw yang gw ajak ke onrust.. (^_^) abis jemput,gw nyampe halte st.UI jam 7 lewat dikiiit..gw parkirin motor gw di parkiran disebelah halte..sampai di halte,gw udah ngeliat Olly & Bari udah duduk di halte,kagum banget gw,apalagi sama Bari..setelah itu berdatangan satu – satu anak sejarah 2008 yang mau ikut ke onrust..akhirnya di halte st. UI ada gw,Bari,Olly,Gadis,Iman,Diana,Paskal,Jack,Odi,Ken,Allan,dan Owi..tinggal nunggu 2 orang lagi yang mau bareng dari halte yaitu Lisan dan Tanu..Akhirnya,kita nungguin mereka berdua lama banget sampe jam setengah 9..karena ga dateng – dateng,kita langsung beli tiket KA Ekonomi ke Jakarta Kota..Dateng juga tuh Lisan ngepas waktu keretanya dateng..hehe..yaudah akhirnya kita naik kereta dan ninggalin Tanu..Diemas dan Ridho ngikut kereta yang sama tapi naik dari st.Lenteng Agung,dan Fize juga naik kereta yang sama tapi naik dari st.12,eh salah,maksudnya dari st.Pasar Minggu..

Di dalam perjalanan,keretanya lumayan rame dan setelah stasiun mana gitu (kalo ga salah setelah st.Gondangdia),keretanya uda mulai sepi..namun setelah st.Jayakarta,keretanya berhenti di tengah rel lama banget,ampe Jack turun dari kereta ke rel uda kaya orang ‘bener’..setelah keretanya jalan,kita tiba di st.Jakarta Kota..di stasiun tsb udah nunggu seorang teman kita,Benaya..dan kita melanjutkan dengan jalan kaki menuju area museum Fatahillah terlebih dahulu untuk sarapan bagi yang belum sarapan..selama anak – anak masih makan,muncullah teman kita Tanu dan membawa seorang senior lagi,Dina..setelah selesai makan,semuanya menunggu kedatangan seorang teman lagi yang datengnya lama sampe kita uda kaya nungguin raja mau dateng,namanya Gilang..ckckck..lama banget datengnya ni orang ampe smuanya harus nunggu di area museum Fatahillah..datenglah dia jam setengah 11..

Dah gitu,terkumpul tuh 20 orang yang mau ke onrust..dari Fatahillah,kita jalan kaki menuju Jl.Kopi untuk naik B 06,angkot yang menuju Kamal Muara..perjalanan sekitar 1 jam menuju Kamal..sesampainya di Kamal Muara,kita naik angkot Carry untuk menuju ke dermaga..Tiba di dermaga,kita mengalami hambatan karena nelayan yang uda janji ma gw tiba – tiba ga ada dan jadinya kita harus nyari nelayan dengan perahu yang lain..karena Allan memiliki kerabat di daerah tsb,kerabatnya mencarikan nelayan yang mau mengangkut ke Kep.1000..dapatlah kita satu kapal dan akhirnya kita berangkat menuju P.Onrust..perjalanan memakan waktu sekitar 45 menit..cuaca cerah,perahu motor pelan,dan ombak bersahabat (Fize masih tenang – tenang aja nih)..namun ada hal buruk yang menimpa Owi,telapak tangan kirinya melepuh karena ga sengaja megang knalpot perahu..

Tibalah kita di P.Onrust..beberapa dari kita ada yang makan dulu bawa makanan yang dibeli di dermaga Kamal karena harganya lebih murah dibandingkan kita harus beli makan di P.Onrust..setelah itu kita berkeliling – keliling sambil foto – foto di pinggir pantai..Lalu kita menemukan makam Kartosoewiryo di dekat pantai sebelah utara dan juga ada makam belanda..ada juga reruntuhan – reruntuhan bekas bangunan untuk karantina haji dan bangunan untuk penjara pada masa belanda..kita beristirahat sejenak setelah menelusuri pantai..ada yang foto – foto,ada yang kakinya nyebur ke pantai,dll..setelah berjalan – jalan,kita masuk ke museum yang ada di P.Onrust..di dalam museum itu ada foto – foto P.Onrust pada masa belanda dan lain – lainnya..

Kita berangkat lagi dari P.Onrust sekitar jam 3.15 untuk melanjutkan perjalanan bersama perahu untuk menuju P.Khayangan atau nama lainnya P.Cipir..pada saat perjalanan,arus ombak sudah mulai agak kencang namun perahunya masih stabil dan cuaca cerah..ada sedikit hambatan ketika tiba di P.Khayangan..sewaktu salah satu kru perahu ingin mengaitkan tali kapal,talinya putus karena terkena gesekan aspal dermaga P.Khayangan..namun hal tsb bisa diatasi dengan mudah tapi sempat membuat seisi perahu ketakutan,termasuk gw..hehehehehe..di P.Khayangan kita hanya sebentar..pulau ini juga ada bekas reruntuhan bekas bangunan karantina haji pada masa belanda..sekitar 20 menit kita berada disitu..

Dah,setelah itu kita kembali naik ke perahu..di tengah perjalanan,ombak uda mulai kencang dan cukup membuat perahu goyang – goyang..disebelah gw duduk tuh si Fize Firmansyah a.k.a. Mas Boy..dia bilang ke gw supaya ga usah lanjut ke pulau yang satunya lagi,P.Kelor,karena ombak uda mulai gede..hal itu juga sudah disarankan oleh nakhoda perahu..namun karena anak – anak menantikan pergi ke P.Kelor,gw menghasut si nakhoda agar bertolak ke P.Kelor..akhirnya kita menuju pulau tersebut..lo semua yang ngeliat tingkah laku ketakutannya Fize pasti lucu deh..sumpah..gw ampe ketawa ngakak ngliat dia ketakutan..maap – maap aja nih bukannya gw ketawa diatas ketakutan orang,tapi masalahnya yang lain tuh pada biasa aja sama tu ombak..hehehe..pis boy..

Setibanya di Kelor,kita langsung foto – foto aja..pulau ini kecil namun pasirnya putih banget..pantainya bagus,alami banget deh..ada sisa bangunan bekas pos penjagaan pada masa belanda disini..tidak lama sekitar 20 menit juga,kita langsung bertolak untuk kembali ke dermaga..dalam perjalanan ke dermaga,ombaknya masih seperti tadi namun entah kenapa sudah agak tenang..mungkin karena makin mendekati daratan..kita tiba di dermaga pada sekitar jam 5 sore..wah udah capek banget deh..habis itu kita kembali naik carry sampe Kamal Muara,trus naik B06 sampai Jl.Kopi (disini hati – hati dan pandai – pandai ngomong aja karena tukang angkutan disini orangnya pada maksa – maksa semua..bener – bener ga nyaman deh disini),berjalan kaki ke beos trus naik kereta ekonomi,dan akhirnya gw dan beberapa teman lain tiba di depok..thx ya teman – teman..sungguh perjalanan yang mengasikan.. (^_^)



Tugas Senar Budaya – Glam Rock
June 3, 2009, 12:01 AM
Filed under: Tugas, UTS, dan UAS

Glam Rock itu sebuah aliran musik pecahan dari Rock yang cukup popular pada era 80an hingga 90an awal di Amerika Serikat. Nama lain glam rock adalah rock glamour. Glam rock itu lahir di Inggris sekitar tahun 70an tapi baru popular pada era 80an. Penampilan dari pemusik – pemusik glam rock ini amat unik karena menggunakan pakaian yang serba mengkilap begitu pula rambutnya juga ikut mengkilap. Kalaupun ada yang tidak mengkilap, penampilan mereka cukup unik karena penampilannya diambil dari seperti cerita – cerita film.           

Yang saya tahu, yang menciptakan glam rock adalah Marc Bolan, musisi asal Inggris yang meninggal tahun 1977. Saya menyukai glam rock karena di dalam aliran music tersebut terdapat sebuah band yang saya agungkan, Bon Jovi dan Guns N’ Roses. Meskipun Bon Jovi pada masa kini telah berganti aliran menjadi pop, saya tetap menyukainya. Guns N’ Roses pun pada masa kini sudah tidak terlalu menarik lagi sejak Slash dkk mengeluarkan diri dari band bentukan Axl Rose tersebut.

Bentuk musik glam rock kadang – kadang lembut namun pula kadang – kadang kencang, tergantung si pembuat lagu ingin membuat seperti apa. Aliran music ini juga ada di Indonesia seperti Seurieus. Mungkin penampilannya tidak sehebat musisi glam rock seperti David Bowie, Alice Cooper, Kiss, Queen, Suzi Quatro, dll. Namun musik mereka menunjukkan kalau mereka berasal dari aliran glam rock ini.

Kebanyakan lagu – lagu glam rock masih beraroma seputar cinta namun dibuat lebih ceria dan dibuat lebih keras, tidak seperti music pop. Musik glam rock ini sangat menyentuh hati karena ada alunan dari permainan gitar hard rock namun lebih melankolis. Alat – alat musiknya merupakan alat music standar band seperti drum, gitar, bass, dan keyboard (namun tidak semua band menggunakan keyboard).